Sensasi Jadul Nasi Jagung Tengah Sawah di Ponorogo
- 01 Agt 2024 16:07 WIB
- Madiun
KBRN, Ponorogo: Bila berkunjung ke Ponorogo, Jawa Timur rasanya tidak afdol jika tidak mencicipi kuliner nasi jagung khas jaman dulu (jadul). Nasi jagung itu menjadi salah satu menu andalan di rumah makan Wong Sawah.
Lokasinya berada di Jalan Raya Jabung-Mlarak, Desa Nglumpang, Kecamatan Mlarak, Ponorogo. Rumah makan itu menyajikan beragam sajian makanan mewah alias menu sawah.
Para pengunjung pun dibuat bernostalgia dengan nuansa alam. Apalagi ditemani semilir angin yang menyejukkan.
Seorang pengunjung warga Sambit, Lusiana Trista mengaku baru kali pertama menyantap nasi jagung. Perempuan berusia 19 tahun itu sengaja memilih menu nasi jagung karena menyehatkan.
"Saya makan nasi jagung, rasanya enak dan ini baru pertama kali mencoba. Alasannya ya karena menyehatkan bagi tubuh dan rendah gula sehingga bisa mengantisipasi diabetes," katanya saat ditemui RRI, Kamis (1/8/2024).
Sementara itu pemilik rumah makan Wong Sawah, M. Hasim mengaku telah merintis usahanya itu sejak 2021 silam. Konsep itu dibangun karena ia ingin mengajak pengunjung bernostalgia dengan menyantap makanan ala pedesaan.
"Konsepnya sebenarnya sederhana bahwa sekarang ini kan sulit untuk mencari makanan tradisional apalagi semakin lama semakin tergerus oleh masakan modern. Jadi kami hadir untuk mengembalikan cita rasa pedesaan dengan konsep makanan tradisional khas uwong Jowo (orang Jawa.red) dengan menghadirkan nasi jagung, nasi tiwul, dan nasi putihnya," katanya.
Menurut Hasim, nasi jagung ini merupakan alternatif pengganti nasi putih yang lebih rendah kadar gula dan kalori. Dengan demikian, cocok disantap bagi yang sedang melaksanakan program diet maupun memiliki riwayat diabetes.
"Tentunya nasi jagung dan tiwul itu baik untuk kesehatan karena rendah kalori. Sehingga buat orang-orang gemuk, lebih bagus mengurangi karbohidrat yang terlalu tinggi," tambahnya.
Untuk bahan baku jagungnya, milik sendiri yang ia tanam di area persawahan dekat rumah makannya. Pun diproses sendiri, mulai penumbukan sampai pengolahan hingga menjadi nasi.
Sehari ia mampu menghabiskan 5 kg nasi jagung, termasuk nasi tiwul. Konsumen biasanya memadupadankan dengan sayur terong, urap, dan lauk.
"Konsep kita prasmanan ya. Jadi mereka bisa mengambil makanan sekenyangnya, karena yang kita hitung lauknya," urainya.
Selain nasi jagung, juga ada beberapa varian menu lain yang menjadi alternatif pilihan. Seperti nasi tiwul maupun nasi putih.
Lauknya pun beragam, mulai gorengan hingga bakaran, lengkap dengan lalapan. Soal harga cukup terjangkau, mulai Rp10 ribu hingga Rp30 ribu per porsi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....