Dari Layar Drakor ke Dunia Nyata: Korean Food Jadi Gaya Hidup Baru

  • 09 Apr 2026 16:28 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Gelombang Korean Wave atau Hallyu terus menunjukkan eksistensinya di Indonesia. Jika sebelumnya identik dengan musik K-Pop dan drama Korea, kini pengaruh tersebut semakin meluas hingga ke gaya hidup, termasuk dalam hal kuliner.

Banyak masyarakat Indonesia yang pertama kali mengenal makanan Korea dari drama Korea (drakor).

Berbagai adegan makan yang ditampilkan dengan apik, seperti menikmati topokki di tenda pinggir jalan saat cuaca dingin atau menyantap ramyeon hangat di malam hari, secara tidak langsung membangun rasa penasaran penonton. Visual yang menggugah selera tersebut menjadi “pintu masuk” bagi masyarakat untuk mengenal lebih jauh kuliner khas Negeri Ginseng.

Seiring waktu, ketertarikan ini tidak berhenti di layar kaca. Tren tersebut berkembang menjadi kebiasaan nyata. Banyak orang mulai mencari tahu, mencoba, hingga menjadikan makanan Korea sebagai salah satu pilihan kuliner favorit mereka. Bahkan, tak sedikit pula yang tertarik untuk menghadirkan pengalaman tersebut melalui usaha kuliner.

Di Kota Madiun, fenomena ini juga terasa cukup kuat. Salah satu pelaku usaha lokal, Elen Surya, melihat peluang tersebut dengan menghadirkan Mokja Korean Food. Kedai ini mengusung konsep pojangmacha, yaitu tenda kaki lima khas Korea yang kerap muncul dalam berbagai adegan drakor.

Konsep ini bukan sekadar tampilan, tetapi menjadi daya tarik utama. Dengan menghadirkan nuansa tenda jalanan khas Korea yang identik dengan warna mencolok dan suasana santai, pengunjung diajak merasakan pengalaman berbeda seolah sedang berada langsung di Korea Selatan.

“Konsepnya mokja ini kedainya adalah pojangmacha alias tenda kaki lima Korea, seperti angkringan. Kalau di drakor kalian pernah lihat tenda-tenda merah itu, nah kita ambil konsep seperti itu. Kita memang ingin menghadirkan suasana seperti di drakor, bukan cuma makanannya saja,” ujar Elen.

Pendekatan ini terbukti efektif menarik minat pelanggan, khususnya generasi muda yang akrab dengan budaya Korea. Bagi mereka, datang ke tempat seperti ini bukan hanya soal makan, tetapi juga soal pengalaman dan suasana yang “relatable” dengan apa yang mereka lihat di layar.

Menariknya, Mokja Korean Food juga berkembang menjadi ruang sosial bagi komunitas. Komunitas K-Pop di Madiun kerap memanfaatkan tempat ini untuk berkumpul dan mengadakan berbagai kegiatan, mulai dari perayaan ulang tahun idol, acara nonton bareng (nobar), hingga sekadar hangout bersama sesama penggemar. Hal ini semakin memperkuat posisi kedai sebagai bagian dari ekosistem budaya Hallyu di tingkat lokal.

Dari sisi menu, inovasi juga terus dilakukan untuk mengikuti tren dan selera pasar. Salah satu menu yang banyak diminati adalah rose topokki, yaitu olahan topokki dengan saus creamy yang memberikan sentuhan modern pada hidangan tradisional. Selain itu, kimbab dengan berbagai variasi isian juga menjadi favorit karena praktis dan cocok dengan lidah masyarakat Indonesia. Perpaduan antara konsep tempat yang unik dan menu yang variatif membuat kuliner Korea semakin mudah diterima. Tidak hanya bagi penggemar K-Pop atau drakor, tetapi juga masyarakat umum yang penasaran mencoba sesuatu yang berbeda.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Korean Wave telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar hiburan. Ia telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup yang memengaruhi pilihan konsumsi, cara bersosialisasi, hingga peluang usaha.

Dengan semakin banyaknya pelaku usaha yang menghadirkan konsep serupa di berbagai daerah, tren kuliner Korea diperkirakan masih akan terus berkembang. Di Madiun sendiri, kehadiran usaha seperti Mokja Korean Food menjadi bukti bahwa budaya global dapat diadaptasi secara lokal, menciptakan pengalaman baru yang menarik sekaligus membuka peluang ekonomi yang menjanjikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....