Dari Dapur Etti, Jadi Kebanggan: Bolen Minul Winongo

  • 11 Feb 2026 12:58 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Winongo, aroma pastry yang baru matang kerap menguar dari dapur sederhana milik Etti Hermiati. Dari tempat inilah lahir bolen Minul, jajanan rumahan yang kini dikenal warga sekitar karena teksturnya yang empuk dan rasanya yang legit. Dapur Minul resmi berdiri pada 2021, meski pengalaman berjualannya sudah dimulai jauh sebelumnya.

“Dapur Minul dari 2021, tapi jualan sudah lama. Cuma mulai Dapur Minulnya itu 2021,” ujarnya saat ditemui di sela aktivitas produksi.

Kecintaan Etti terhadap dunia baking sudah tumbuh sejak sekolah. Saat menempuh pendidikan di Sumatera, ia tinggal di rumah kos milik seorang ibu yang menjalankan usaha katering.

“Saya senang bikin kue itu mulai dari sekolah sebenarnya. Ibu kos saya tukang catering, bikin kue-kue kering,” kenangnya.

Etti mengungkapkan kisah bolen bermula dari kegemarannya membeli bolen di salah satu toko ternama. Namun karena merasa harganya cukup mahal jika terlalu sering membeli, ia pun mencoba membuat sendiri.

“Lama-kelamaan kan beli terus mahal. Akhirnya saya belajar-belajar. Awal-awal belajar masih keras,” tuturnya jujur.

Ia tidak menyerah. Bersama ponakannya yang juga gemar baking, ia terus mencoba berbagai resep hingga menemukan formula yang pas. Respons positif itulah yang menjadi titik awal berkembangnya bolen Minul.

“Ponakan saya dapat resep, saya yang coba. Saya kasih tester ke tetangga, terus tetangga senang,” katanya.

Pada awal produksi, bolen dibuat dalam ukuran reguler. Namun selera pasar berubah. Konsumen justru lebih menyukai ukuran mini yang dinilai praktis dan ekonomis. Ia menambahkan bahwa dalam penjualan harian, produk mini lebih mendominasi dibanding ukuran reguler. 

“Ke sini-ke sini orang-orang permintaan banyak yang mini-mini. Malah sekarang yang laris yang mini-mini,” jelas Etti.

Bolen mini dijual Rp10.000 per kemasan isi enam. Sementara ukuran besar dibanderol Rp35.000, menyesuaikan kemasan. Selain bolen, tersedia pula kue basah seperti lumpur dan nona manis yang juga tersedia dalam ukuran mini. Untuk paket kue campur isi enam dijual Rp11.000. Strategi produksi dilakukan dengan sistem preorder melalui WhatsApp. Sistem ini membuat produk selalu dalam kondisi segar karena dibuat sesuai pesanan.

“Kalau lagi banyak pesanan bisa sampai 200 sehari, tapi enggak mesti. Preorder, lewat WA saja,” ujarnya. 

Untuk varian rasa, bolen Minul menghadirkan dua pilihan utama: cokelat dan keju. Pelanggan juga dapat melakukan request khusus. 

“Variannya coklat sama keju. Jadi dalam satu box ini saya isi lima coklat, lima keju,” jelasnya sambil menunjukkan kemasan produknya.

Menurut Etti, keunggulan bolennya terletak pada tekstur. Tekstur lembut berpadu dengan isian yang pas membuat bolen ini cocok sebagai camilan keluarga maupun suguhan acara.

 “Kalau dari pelanggan yang review, bolen saya itu katanya legit, empuk, enggak keras,” ujarnya.

Sebagai produk rumahan, Dapur Minul kini telah memiliki legalitas usaha yang lengkap. Ia mengaku banyak merasakan manfaat setelah memiliki izin resmi. Keberadaan izin usaha turut meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap kualitas dan keamanan produk.

 “Sudah lengkap, mulai dari NIB, PIRT, nilai gizinya juga sudah. Semua dibantu oleh dinas. Banyak banget manfaatnya. Alhamdulillah saya sudah bisa ngontrak di sini, sudah bisa bayar listrik sendiri,” katanya penuh syukur.

Di tengah menjamurnya produk bolen di pasaran, bolen Minul hadir dengan pendekatan sederhana: rasa yang konsisten, harga terjangkau, dan pelayanan fleksibel.

Berawal dari hobi, proses belajar yang penuh kegigihan, hingga kini menjadi produk favorit warga Winongo, bolen Minul membuktikan bahwa usaha rumahan pun mampu bersaing melalui kualitas. Dengan tekstur yang legit dan empuk serta harga ramah di kantong, tak heran jika bolen mini dari Dapur Minul kini menjadi camilan andalan masyarakat sekitar.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....