Garut, Umbi Lokal yang Terlupakan

  • 23 Jul 2025 20:55 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun Di tengah gempuran makanan modern dan pangan impor, Indonesia sesungguhnya kaya akan sumber pangan lokal yang belum sepenuhnya tergali. Salah satunya adalah umbi garut (Maranta arundinacea), tanaman umbi-umbian tradisional yang dulunya akrab di dapur masyarakat pedesaan. Kini, keberadaannya mulai langka, namun masih menyimpan potensi besar, terutama di wilayah kabupaten seperti Kabupaten Ngawi, Ponorogo, Magetan, dan Madiun.

Garut dikenal juga dengan sebutan larut atau arut di beberapa daerah. Umbinya berbentuk lonjong, berkulit tipis, dan memiliki daging berwarna putih hingga krem. Teksturnya halus setelah direbus, dan rasanya netral, membuatnya cocok sebagai makanan ringan atau bahan olahan lain seperti bubur dan tepung.

Garut bukan hanya mudah ditanam, tapi juga ramah bagi pencernaan. Kandungan karbohidrat kompleksnya menjadikannya alternatif pengganti nasi atau sumber energi bagi penderita gangguan pencernaan. Bahkan, tepung garut (arrowroot flour) kini dilirik sebagai bahan pangan sehat bebas gluten.

1. Kabupaten Ngawi. Wilayah seperti Sine, Jogorogo, dan Ngrambe, yang berada di kaki Gunung Lawu, masih menyimpan potensi besar bagi garut. Meskipun tidak dibudidayakan secara komersial, garut tumbuh liar atau ditanam terbatas oleh warga tua sebagai cadangan pangan atau camilan sehat. Pekarangan luas dan budaya tani tradisional menjadikan Ngawi sangat cocok untuk revitalisasi tanaman ini.

2. Kabupaten Ponorogo. Di daerah seperti Pulung, Ngebel, hingga Sawoo, umbi garut masih bisa ditemukan, meski semakin jarang. Budaya bertani yang kuat dan wilayah berbukit dengan banyak tegalan menjadi habitat alami garut. Beberapa komunitas pertanian mulai melirik kembali tanaman ini sebagai bagian dari gerakan pangan lokal.

3. Kabupaten Magetan. Magetan, terutama bagian lereng Gunung Lawu seperti Plaosan, Sidorejo, dan Panekan, merupakan wilayah yang ideal untuk garut. Masyarakat desa di sana masih mengenal dan sesekali menanam garut untuk kebutuhan pribadi. Bahkan, Pasar Sayur Magetan kadang menjual garut rebus musiman dari hasil panen warga.

4. Kabupaten Madiun. Wilayah selatan dan timur Kabupaten Madiun, seperti Dolopo, Wungu, dan Dagangan, masih menyimpan peluang hidup bagi garut. Di desa-desa dengan kebun campuran dan sistem pertanian tradisional, garut bisa ditemukan tumbuh sebagai bagian dari keragaman tanaman pekarangan. Namun, regenerasi petani dan edukasi terhadap anak muda masih menjadi tantangan.

Meskipun secara historis dikenal luas, garut kini hampir tidak masuk dalam statistik pertanian. Minimnya perhatian dari kebijakan pertanian dan hilangnya pengetahuan antar generasi membuat tanaman ini seperti “harta terpendam” di tengah krisis pangan dan gizi saat ini.

“Dulu waktu kecil, garut itu makanan sehari-hari. Sekarang orang malah banyak yang nggak kenal,” Pak Karto, petani Sine, Ngawi. (07/2025).

Padahal, dengan tren kembali ke makanan sehat dan organik, garut bisa menjadi primadona baru. Tidak hanya sebagai pangan alternatif, tapi juga peluang ekonomi berbasis lokal.

Garut adalah simbol sederhana dari kekayaan alam Nusantara yang mulai dilupakan. Namun, di tanah-tanah subur dan pekarangan warga di Ngawi, Ponorogo, Magetan, dan Madiun, potensinya masih hidup, menunggu untuk digali kembali. Dengan dorongan edukasi, pelestarian, dan inovasi olahan, umbi kecil ini bisa jadi bagian penting dalam masa depan pangan Indonesia.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....