Selain Enak, Terdapat Filosofi Mendalam Pada ‘Sayur Lodeh’

  • 27 Jun 2025 14:09 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Cita rasa yang kaya dan unik, dengan aneka macam sayur yang penuh warna, sayur lodeh ternyata memiliki filosofi yang mendalam terlebih bagi masyarakat Jawa. Melansir dari akun Instagram @kabarjawaofficial bahwa setiap bahan dalam sayur lodeh memiliki makna yang mendalam masing- masing.

Adapun bahan- bahan dalam sayur lodeh meliputi kluwih, cang gleyor atau dikenal dengan kacang panjang, terong, kulit melinjo, waluh atau labu kuning, godong so atau daun melinjo, dan tempe. Dimulai dari bahan kluwih, bahwa maknanya adalah memberikan perhatian kepada keluarga, saling mengingatkan dan melindungi satu sama lain.

Sedangkan cang gleyor atau yang dikenal dengan kacang panjang memiliki arti untuk menjaga diri dan tidak sembarangan ketika keluar dari rumah, bahkan ketika ada wabah atau bencana dianjurkan untuk berdiam diri di rumah, dan selalu waspada setiap saat. Adapun makna untuk rajin beribadah dan jangan hanya menjalankan ibadah ketika ingat atau susah saja, karena ibadah sudah tentunya menjadi kewajiban untuk dekat kepada sang Pencipta, adalah makna dari bahan terong.

Kulit melinjo sendiri juga mengingatkan setiap individu bahwa jangan hanya melihat segala hal yang dapat dilihat oleh mata secara langsung, serta penting untuk senantiasa mengevaluasi diri sendiri, agar dapat terus memperbaiki diri. Rasa untuk senantiasa bersyukur dan anjuran untuk tidak sering mengeluh ada pada bahan waluh atau dikenal dengan labu kuning.

Lebih lanjut, bahan tempe memiliki makna mendalam tentang bersikap sabar serta tawakal dan hanya memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terakhir, godong so atau daun melinjo bahwa penting untuk berkumpul atau berteman dengan orang- orang yang saleh.

Bagi masyarakat Jawa, tentu sayur lodeh bukan hanya sekedar hidangan yang nikmat, jauh filosofi yang dimilikinya bahwa diyakini sebagai ‘penolak bala’. Hal ini karena dalam sejarah, dimana terjadi sebuah wabah pes di tanah Jawa bahkan selama lebih dari 20 tahun, kala itu Sri Sultan Hamengkubuwono VIII memerintahkan masyarakatnya guna memasak sayur lodeh sebagai bentuk perlindungan.

Selain itu Sang Raja juga meminta warga selama 45 hari berdiam diri di rumah saja, konon usai 45 hari itulah, wabah berakhir. Sedang seperti mengutip Kabar Jawa Official melalui Instagramnya, adapun sejumlah versi sejarah lain terabadikan terkait keberadaan sayur lodeh sendiri.

Adapun menurut cerita Jawa Tenga, pada tahun 1006 saat terjadi letusan gunung Merapi, sayur lodeh dimasak untuk bertahan dari dampak bencana. Sedangkan versi lainnya adalah terdapat pengaruh dari Spanyol dan Portugis terkait perkembangan sayur lodeh kala itu pada abad 16 hingga 17 yang mana kedua bangsa tersebut memperkenalkan jagung dan kacang panjang kepada Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....