15 Tahun Berjualan Sate: Banyak Cerita dalam Setiap Tusukan
- 29 Okt 2024 06:03 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : Menjadi pedagang sate selama 15 tahun bukanlah perjalanan singkat bagi Ahmad, seorang penjual sate yang berjualan di punggir jalan Kota Madiun. Setiap tusukan sate yang dia sajikan menyimpan berbagai kisah, dari suka duka hingga pengalaman unik bersama pelanggan.
Ahmad memulai usahanya sejak tahun 2009 dengan gerobak kecil di seputaran jalan Salak Kota Madiun. Awalnya, ia hanya melayani beberapa pelanggan setia, namun kini gerobak sederhananya ramai dipenuhi pengunjung yang datang untuk menikmati sate dengan cita rasa khas dan bumbu kacang yang gurih. Ahmad mengungkapkan bahwa rahasia kelezatannya terletak pada pemilihan daging segar dan bumbu kacang racikan sendiri yang diwariskan turun-temurun.
"Saya berjualan karena terinspirasi sama bapak. Beliaulah yang membawa saya akhirnya mencari rezeki dengan berdagang sate juga. Bapak yang mengajari saya banyak hal tentang persatean. Banyak sekali pengalaman menarik sejak saya berjualan tahun 2009. Jadi sudah 15 tahun saya berjualan" ujarnya sambil tersenyum.

Tak hanya itu, Ahmad juga berbagi cerita tentang tantangan yang dia hadapi, seperti naik-turunnya harga bahan baku, persaingan dengan pedagang sate lainnya, dan juga bersinggungan dengan karakter pembeli yang berbeda-beda. Sejak 2009, Harga satenya pun meningkat dari seporsi harga Rp 7.500,- di tahun 2009 sampai Rp 13.000,- saat ini. Berkat kerja kerasnya, dia berhasil mempertahankan usahanya hingga saat ini.
"Yang paling penting adalah menjaga kepercayaan pelanggan dan konsisten dalam rasa. Alhamdulillah banyak yang cocok dan suka. Kalau naik turunnya ayam sebagai bahan baku ya hal yang lumrah. Saya berharap bisa terus berjualan, lancar rezekinya, laris" tambahnya.
Ahmad mulai berjualan sehabis magrib atau sekitar jam 18.00 WIB dan tutup kurang lebih jam 21.00 WIB atau sampai habisnya dagangan. Pelanggannya pun datang silih berganti setiap harinya, ini terbukti sudah adanya antrian saat ahmad masih menyiapkan dagangan satenya yang baru datang.

Desi salah satu pelanggan sate Ahmad bahkan sudah mengantri sebelum magrib agar cepat dilayani. "Sebelum magrib, udah ngantri nungguin di sini. Soalnya telat dikit antriannya dah panjang. Saya suka satenya karena tergolong paling murah lo se madiun dan rasanya mantap. Bumbu kacangnya kental, bakaran satenya pas banget" cerita desi dambil menunggu pesanannya jadi.
Dengan perjalanan panjang selama 15 tahun, Ahmad terus melayani pelanggan dengan senyuman, penuh cerita dan harapan untuk kelancaran usahanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....