Tidak Hanya Bertahan, tapi Bertumbuh: Investasi Jadi Jalan Keluar Sandwich Gen

  • 15 Jul 2026 18:40 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Di tengah meningkatnya biaya hidup, kebutuhan pendidikan anak, hingga tanggung jawab merawat orang tua yang memasuki usia lanjut, generasi sandwich menghadapi tantangan finansial yang semakin kompleks. Kelompok yang berada di posisi "terjepit" antara kewajiban membiayai generasi di atas dan di bawahnya ini dituntut tidak hanya mampu bertahan secara ekonomi, tetapi juga memikirkan keberlanjutan keuangan jangka panjang.

Para pakar menilai, investasi menjadi salah satu strategi penting agar generasi sandwich tidak terjebak dalam siklus finansial yang stagnan. Namun, investasi yang dimaksud bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan bagian dari perencanaan keuangan yang matang dan berkelanjutan.

Dr. Vivi Ariyani, S.E., M.Sc., menjelaskan bahwa fenomena sandwich generation kini semakin banyak dijumpai di Indonesia, terutama di kalangan usia produktif. Menurutnya, tekanan ekonomi yang dihadapi kelompok ini sering kali membuat mereka mengabaikan kebutuhan finansial pribadi, termasuk menyiapkan dana masa depan.

"Generasi sandwich memiliki beban ganda. Mereka harus memenuhi kebutuhan orang tua sekaligus membesarkan anak-anak. Kondisi ini sering membuat mereka hanya fokus pada kebutuhan hari ini dan melupakan pentingnya membangun aset untuk masa depan," ujarnya, Rabu, 15 Juli 2026.

Menurut Dr. Vivi, pola pikir tersebut perlu diubah. Ia menekankan bahwa investasi bukan hanya milik masyarakat dengan pendapatan tinggi, melainkan dapat dimulai oleh siapa saja dengan nominal yang terjangkau.

"Investasi adalah bentuk perlindungan terhadap masa depan. Ketika seseorang hanya mengandalkan penghasilan aktif tanpa membangun aset, maka risiko finansial akan semakin besar ketika terjadi kondisi darurat atau memasuki usia pensiun," jelasnya.

Ia menyarankan generasi sandwich untuk menyusun prioritas keuangan secara disiplin. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membangun dana darurat, melunasi utang konsumtif, kemudian mulai berinvestasi secara rutin sesuai kemampuan.

Menurutnya, konsistensi jauh lebih penting dibandingkan besarnya nominal investasi.

"Mulailah dari jumlah kecil, tetapi dilakukan secara berkala. Prinsip compounding atau bunga berbunga akan bekerja apabila investasi dilakukan dalam jangka panjang," katanya.

Selain itu, Dr. Vivi mengingatkan pentingnya memilih instrumen investasi sesuai profil risiko masing-masing individu. Produk seperti reksa dana pasar uang, obligasi negara, emas, maupun saham dapat dipilih berdasarkan tujuan keuangan serta jangka waktu investasi.

Sementara itu, Ir. Theresia Liris Windyaningrum, S.T., M.T., menilai bahwa persoalan terbesar generasi sandwich bukan hanya keterbatasan pendapatan, tetapi juga masih rendahnya literasi keuangan.

Menurutnya, banyak masyarakat yang menganggap investasi sebagai aktivitas yang rumit, mahal, bahkan berisiko tinggi, sehingga enggan memulai.

"Padahal yang paling penting adalah memahami tujuan investasi. Investasi bukan sekadar mencari keuntungan besar dalam waktu singkat, tetapi membangun ketahanan finansial secara bertahap," ujarnya saat ditemui secara daring.

Ia mengatakan bahwa perkembangan teknologi digital saat ini telah memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses berbagai instrumen investasi secara legal dan transparan. Namun, kemudahan tersebut juga harus diimbangi dengan kemampuan menyaring informasi agar tidak terjebak investasi bodong.

"Calon investor harus memastikan legalitas lembaga keuangan, memahami produk yang dipilih, serta tidak mudah tergiur imbal hasil yang tidak masuk akal," tegasnya.

Theresia juga menekankan pentingnya diversifikasi investasi. Menurutnya, menyimpan seluruh dana hanya pada satu instrumen akan meningkatkan risiko kerugian apabila terjadi gejolak ekonomi.

"Prinsip jangan menaruh seluruh telur dalam satu keranjang masih sangat relevan. Diversifikasi membantu mengurangi risiko sehingga kondisi keuangan menjadi lebih stabil," katanya.

Baik Dr. Vivi maupun Ir. Theresia sepakat bahwa investasi bukanlah bentuk sikap individualistis yang mengabaikan keluarga. Sebaliknya, investasi justru merupakan wujud tanggung jawab agar seseorang tidak menjadi beban finansial bagi anak-anaknya di masa mendatang.

Dengan memiliki aset yang terus bertumbuh, generasi sandwich dapat mempersiapkan kebutuhan pendidikan anak, biaya kesehatan, hingga dana pensiun secara lebih terencana. Menurut keduanya, perubahan pola pikir menjadi langkah awal yang harus dilakukan. Generasi sandwich perlu memahami bahwa memenuhi kebutuhan keluarga saat ini tetap penting, tetapi membangun masa depan yang lebih aman juga tidak boleh diabaikan.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, inflasi, serta meningkatnya kebutuhan hidup, investasi menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga daya beli sekaligus meningkatkan kesejahteraan. Perencanaan keuangan yang disiplin, peningkatan literasi finansial, serta pemilihan instrumen investasi yang tepat diyakini dapat membantu generasi sandwich keluar dari tekanan ekonomi yang selama ini mereka hadapi.

"Tujuan akhirnya bukan sekadar bertahan hidup, tetapi menciptakan kondisi keuangan yang sehat sehingga dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga saat ini maupun generasi berikutnya," pungkas Dr. Vivi.

Senada dengan itu, Ir. Theresia menegaskan bahwa investasi bukanlah tentang seberapa besar modal yang dimiliki, melainkan keberanian untuk memulai dan konsistensi dalam menjalankannya. Dengan perencanaan yang tepat, disiplin mengelola keuangan, dan komitmen untuk terus belajar, generasi sandwich memiliki peluang besar untuk mengubah tantangan menjadi kekuatan. Mereka tidak hanya mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga bertumbuh menuju kemandirian finansial yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....