Gigi Susu Bertahan hingga Dewasa, Bagaimana Cara Merawatnya?

  • 03 Okt 2026 10:14 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Memiliki gigi susu hingga usia dewasa mungkin terdengar tidak biasa. Namun, kondisi tersebut dapat terjadi ketika gigi permanen atau gigi dewasa yang seharusnya menggantikan gigi susu tidak terbentuk. Lantas, jika seseorang hanya memiliki gigi susu hingga dewasa, apakah gigi tersebut harus dicabut? Atau justru perlu dipertahankan?

Dokter Gigi, drg. Pramita Eka W., menjelaskan, penanganan kondisi tersebut perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi gigi pasien. Jika seseorang sudah tidak berada dalam masa pertumbuhan, pemeriksaan awal dapat dilakukan melalui foto rontgen panoramik. Pemeriksaan ini diperlukan untuk melihat kondisi gigi di dalam tulang rahang, termasuk memastikan ada atau tidaknya benih gigi permanen.

“Kalau sudah tidak dalam usia pertumbuhan, sebaiknya dilakukan foto rontgen terlebih dahulu, yaitu foto panoramik untuk melihat apakah ada benih gigi dewasa atau tidak,” jelasnya, Jumat, 2 Oktober 2026. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan tidak terdapat benih gigi permanen, gigi susu yang masih ada tidak selalu harus dicabut.

Selama gigi susu masih sehat, kuat, tidak mengalami kerusakan berat dan masih dapat berfungsi dengan baik, gigi tersebut dapat dipertahankan. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa mempertahankan gigi susu pada pasien dengan hipodonsia atau kondisi tidak terbentuknya sebagian gigi permanen, dapat menjadi salah satu pilihan perawatan.

Sebuah systematic review yang dipublikasikan dalam European Journal of Prosthodontics and Restorative Dentistry melaporkan, keberlangsungan gigi susu yang dipertahankan pada pasien dewasa dengan hipodonsia berada pada kisaran 83 hingga 93 persen dalam studi-studi yang ditinjau. Namun, peneliti juga menekankan keterbatasan bukti, terutama untuk usia yang lebih lanjut. Penelitian lain mengenai gigi geraham susu yang menetap ketika gigi premolar permanen tidak terbentuk menemukan sekitar 82 hingga 89 persen gigi masih berada di rongga mulut setelah masa pemantauan lima hingga 13 tahun. Meski demikian, tingkat kepastian buktinya dinilai rendah, sehingga kondisi gigi tetap perlu dipantau secara klinis dan melalui pemeriksaan radiografi.

Artinya, keputusan untuk mempertahankan atau mencabut gigi susu tidak cukup hanya berdasarkan usia. Dokter perlu melihat kondisi gigi, akar gigi, posisi gigi, kesehatan jaringan di sekitarnya, serta fungsi gigi saat mengunyah. Jika sebagian gigi susu masih ada, sementara gigi permanen lainnya telah tumbuh, pilihan perawatan juga dapat berbeda.

“Kalau gigi susunya sebagian dan memungkinkan, gigi dewasanya bisa dirapatkan dengan behel. Kalau tidak memungkinkan, bisa menggunakan gigi palsu,” tambahnya.

Perawatan dengan behel atau ortodonti dapat dipertimbangkan untuk mengatur posisi dan menutup ruang gigi yang tidak terbentuk, tetapi keputusan tersebut harus melalui pemeriksaan dokter gigi atau dokter gigi spesialis ortodonti.

Sementara itu, jika ruang gigi yang hilang tidak memungkinkan untuk ditutup, penggantian gigi dapat dipertimbangkan, salah satunya menggunakan gigi tiruan. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan pilihan penggantian gigi lainnya berdasarkan kondisi tulang, gusi, usia dan kebutuhan pasien. Dalam penanganan hipodonsia, pilihan perawatan memang dapat meliputi mempertahankan gigi susu maupun mengganti gigi yang tidak terbentuk.

Yang tidak kalah penting, gigi susu yang bertahan hingga dewasa tetap harus dirawat seperti gigi lainnya.

Gigi tersebut tetap dapat mengalami masalah, seperti gigi berlubang, perubahan posisi, penurunan posisi gigi dibandingkan gigi di sekitarnya atau yang disebut infraoklusi, serta penyerapan akar. Karena itu, pemeriksaan secara berkala diperlukan untuk memastikan gigi yang dipertahankan masih berada dalam kondisi yang baik.

Jadi, bagi orang dewasa yang masih memiliki gigi susu, tidak perlu terburu-buru mencabutnya. Langkah pertama adalah memeriksakan kondisi gigi ke dokter gigi. Pemeriksaan, termasuk foto rontgen panoramik bila diperlukan, dapat membantu mengetahui apakah terdapat benih gigi permanen dan menentukan pilihan perawatan.

Jika tidak terdapat benih gigi permanen dan gigi susu masih sehat, gigi tersebut dapat dipertahankan dengan pemantauan dan perawatan yang tepat. Sementara jika terdapat gigi permanen dengan kondisi tertentu, perawatan ortodonti maupun penggantian gigi dapat menjadi pilihan sesuai hasil pemeriksaan. Yang terpenting, jangan menentukan tindakan hanya karena gigi tersebut merupakan gigi susu. Kondisi setiap pasien berbeda dan membutuhkan pemeriksaan langsung oleh dokter gigi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....