Apakah Gula Stevia Lebih Aman dan Sehat? Simak Penjelasan Nutrisionis Berikut
- 30 Agt 2026 21:20 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Penggunaan pemanis buatan kini makin diminati masyarakat yang ingin mengontrol asupan kalori bulanan tanpa harus kehilangan cita rasa manis pada makanan atau minuman favorit. Di tengah maraknya produk pengganti gula, pemanis dari bahan alami seperti stevia menjadi salah satu opsi yang semakin menjadi primadona dan sering diperbincangkan di tengah masyarakat.
Stevia merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang diekstrak daunnya langsung dari tanaman alami. Oleh karena itu, berbeda dari pemanis buatan hasil sintesis kimiawi.
Keunggulan utamanya terletak pada sifatnya yang nol kalori dan tidak memicu lonjakan kadar gula darah. Hal ini disampaikan oleh ahli gizi Nikmahtul Fadilla, A.Md., Gz, dalam program Indonesia Sehat, di RRI Madiun.
“Jadi stevia ini sebenarnya hadir untuk membantu mengurangi kecanduan terhadap gula. Jadi nanti walaupun kita bisa konsumsi manis akan tetapi nol kalori gitu atau enggak bisa menaikkan apa tuh namanya gula darah kita gitu intinya,” jelas Fadilla sapaan akrabnya.
Pemanis ini memungkinkan seseorang tetap menikmati sensasi manis tanpa perlu khawatir akan akumulasi kalori tambahan yang berdampak negatif pada metabolisme tubuh.
Lebih lanjut ia juga mengungkapkan bahwa meskipun ada pilihan gula stevia namun akan lebih baik kalau metabolisme tubuh kita terbiasa dengan bahan makanan yang tidak perlu ada tambahan gula atau tidak perlu ada tambahan rasa manis seperti itu.
Menurut Nikmahtul Fadilla, kehadiran stevia pada dasarnya berfungsi sebagai alat bantu untuk menjembatani proses transisi seseorang yang ingin mengurangi ketergantungan atau kecanduan terhadap gula pasir biasa.
Fadilla menekankan, meskipun tergolong aman untuk dikonsumsi harian, penggunaannya tetap memiliki batasan maksimal yang perlu diperhatikan. Stevia yang dikonsumsi secara berlebihan justru dapat mengubah cita rasa makanan atau minuman. “Jadi stevia akan memicu timbulnya sensasi rasa pahit (after taste) pada lidah jika batas wajar pengolahan terlampaui,” papar Fadilla.
Di pasaran saat ini, stevia umumnya dijumpai dalam dua bentuk, yakni cair (tetes) dan serbuk. Kedua jenis produk ini diproses dari ekstrak daun stevia yang sama, namun melewati tahapan pengolahan yang sedikit berbeda hingga siap dipasarkan dan dikonsumsi oleh masyarakat luas.
Mengenai perbedaan kedua bentuk tersebut, varian serbuk umumnya melalui rantai pengolahan yang lebih panjang dibandingkan bentuk cair. Tahapan ekstraksi dan pemadatan yang lebih kompleks diperlukan untuk mengubah ekstrak basah daun stevia menjadi serbuk kering yang mudah larut.
Terkait pilihan yang lebih disarankan, Fadillah menganjurkan masyarakat untuk memilih varian cair jika memungkinkan, mengingat tingkat pengolahannya yang tergolong lebih minimal. Kendati demikian, memilih varian serbuk jugatidak masalah, karena keduanya tetap aman untuk dikonsumsi sesuai kebutuhan harian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....