Nutrisionis Jelaskan Cara Cegah dan Hadapi Anak Kecanduan Gula

  • 30 Agt 2026 06:20 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Makanan maupun minuman manis menjadi kegemaran anak- anak. Namun, orang tua tidak boleh mengabaikan, terlebih jika anak sudah banyak dan cenderung sering mengonsumsinya.

Mengingat, dampak konsumsi gula berlebih bagi kesehatan sangat menjadi perhatian kita semua, mulai dari masalah obesitas, diabetes dan penyakit kronis lainnya. Pengaturan asupan gula pada anak pastinya menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi setiap orang tua di era modern.

Lantas bagaimana mencegah bahkan jika anak sudah keseringan bahkan kecanduan mengonsumsi makanan maupun minuman manis atau yang memiliki kandungan gula berlebih, apa yang perlu dilakukan orang tua?. Nikmahtul Fadilla, A.Md., Gz., memberikan sejumlah tips yang dapat dilakukan oleh para orang tua.

“Jika orang dewasa disarankan membatasi konsumsi gula tambahan maksimal 25 gram per hari, batasan untuk anak berada pada tingkat yang jauh lebih rendah. Idealnya, anak hanya mengonsumsi gula tambahan sekitar 10 hingga 15 gram dalam sehari bahkan angka batas ini sangat rentan terlampaui terlebih jika anak terbiasa mengonsumsi produk kemasan yang ada di pasaran,” ungkap Fadilla, kemarin.

Lebih lanjut, hal pertama yang perlu dilakukan orang tua sebagai pencegahan utama adalah menghentikan kebiasaan menyediakan stok makanan dan minuman kemasan di dalam rumah.

“ Yang pertama adalah jangan menyediakan di rumah, bahkan stop jika sudah menjadi kebiasaan. Kalau takut dikatakan pelit, biasanya oleh lingkungan sekitar makan diabaikan saja demi menjaga asuapns ehat bagi anak,” tegasnya.

Kebijakan ini sangat penting dilakukan guna membatasi akses langsung anak terhadap bahan pangan tinggi gula. Sebagai pilihan lain untuk persediaan di rumah, tempat penyimpanan makanan dapat diisi dengan bahan pangan utuh (real food) seperti buah-buahan segar dan sumber protein.

Sebagai orang tua juga sangat perlu mengajarkan anak untuk terbiasa menikmati bahan pangan alami tanpa pemanis buatan. Hal ini sekaligus menjadi benteng utama dalam membentuk pola makan yang sehat termasuk juga melatih kepekaan indra pengecap anak terhadap rasa manis alami.

Selain itu, kreatifitas dalam membuat olahan yang dimodifikasi sebagai pengganti jajanan instan, perlu dimiliki orang tua. Fadilla memberikan contoh, keinginan anak untuk menikmati es krim dapat disiasati dengan membuat sorbet buah atau mengolah buah-buahan beku yang dicampur dengan susu cair murni tanpa gula maupun yoghurt alami.

Itu lantaran, inovasi olahan rumahan ini dapat memenuhi selera anak tanpa mengorbankan nilai nutrisi. Selanjutnya, anak selalu melihat dan meniru apa yang menjadi kebiasaan orang tua, maka orang tua perlu memberikan teladan yang baik termasuk dalam hal membatasi makanan manis.

Tanpa adanya contoh nyata dari orang tua yang juga membatasi makanan manis, upaya mengedukasi anak akan sulit membuahkan hasil yang optimal. Dalam penjelasannya lebih lanjut, Nutrisionis asal kota Madiun itu juga membagikan langkah- langkah menghadapi kondisi pada anak yang sudah terlanjur mengalami kecanduan makanan atau minuman manis. Proses penanganannya harus dilakukan secara bertahap dan konsisten.

“ Jadi langkah pertama yakni mereduksi, dengan tidak melakukannya secara drastis, melainkan dengan mengurangi porsi secara perlahan. Selain juga perlu diimbangi dengan adanya komunikasi yang intensif supaya pemahaman anak terbangun dengan baik,” ucap Fadilla.

Komunikasi berulang mengenai batasan konsumsi manis terbukti efektif karena memori anak mampu merekam pesan yang disampaikan secara terus- menerus atau konsisten. Pembiasaan ini membantu anak memahami alasan di balik pembatasan makanan manis tanpa merasa dipaksa secara sepihak.

Fadilla juga mengingatkan jika proses edukasi ini membutuhkan kesabaran serta pendampingan berkelanjutan dari pihak keluarga. Penetapan aturan pembatasan gula juga memerlukan keselarasan sikap dari seluruh anggota keluarga serta pengasuh di rumah.

Komitmen yang seragam di antara orang tua dan pengasuh sangat penting agar anak tidak menerima instruksi yang bertolak belakang terkait izin mengonsumsi jajanan manis. Sinergi yang konsisten di lingkungan rumah menjadi kunci utama keberhasilan menjaga anak dari bahaya konsumsi gula berlebih.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....