Kenali Tanda Gawat Darurat Bedah, Segera ke IGD jika Muncul Gejala Bahaya

  • 18 Agt 2026 13:36 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Masyarakat perlu mengenali tanda kegawatdaruratan bedah agar pasien segera mendapatkan penanganan medis. Nyeri perut hebat, perut terasa keras atau kaku, perdarahan hebat, muntah darah atau berwarna hijau, hingga penurunan kesadaran menjadi sejumlah tanda yang perlu diwaspadai.

Perawat Mahir RSUD Dungus, Rihandhika Waskito Ardhi, mengatakan kegawatdaruratan bedah membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Penundaan pada kondisi tertentu dapat mengancam keselamatan jiwa maupun fungsi organ.

“Kegawatdaruratan bedah membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Masyarakat perlu mengenali tanda-tanda bahaya sejak awal, karena penundaan penanganan pada kondisi tertentu dapat mengancam keselamatan jiwa maupun fungsi organ,” ujarnya dalam Penyuluhan Tanda Gawat Darurat Bedah di Ruang Tunggu Instalasi Rawat Jalan RSUD Dungus belum lama ini.

Dalam materi penyuluhan dijelaskan bahwa beberapa kondisi yang dapat memerlukan operasi segera antara lain appendisitis perforasi, perdarahan dalam, trauma, sumbatan usus, hernia terjepit, serta perforasi usus atau lambung.

Masyarakat juga perlu mewaspadai sejumlah tanda bahaya, seperti nyeri perut hebat, perut keras atau kaku, muntah darah maupun muntah berwarna hijau, buang air besar berdarah, perdarahan hebat, serta penurunan kesadaran. Gejala tersebut tidak sebaiknya dianggap sebagai keluhan biasa dan perlu mendapatkan evaluasi medis segera.

Pada kondisi nyeri perut akut, misalnya, nyeri yang muncul secara tiba-tiba dan sangat hebat, terutama yang terlokalisir kuat di perut kanan bawah, dapat menjadi tanda kondisi serius seperti appendisitis perforasi.

Sementara itu, dinding perut yang terasa sangat keras dan tegang seperti papan dapat menjadi tanda peritonitis. Muntah berwarna hijau pekat yang disertai perut membuncit serta tidak dapat buang angin atau buang air besar juga perlu diwaspadai sebagai tanda sumbatan usus.

Dalam kondisi kegawatdaruratan bedah, waktu menjadi hal yang sangat penting. Penundaan penanganan dapat meningkatkan risiko terhadap keselamatan pasien.

Karena itu, pemahaman keluarga dalam mengenali tanda bahaya juga menjadi bagian penting untuk mempercepat pengambilan keputusan dan membawa pasien mendapatkan pertolongan medis. Salah satu hal yang ditekankan dalam edukasi adalah golden period pada kondisi tertentu.

Pada kasus seperti hernia strangulata atau usus terjepit dan torsio testis, pasokan darah ke jaringan dapat terhenti. Apabila tindakan operasi dilakukan dalam waktu kurang dari enam jam sejak gejala awal muncul, jaringan organ masih dapat diselamatkan dan risiko nekrosis atau kematian jaringan dapat dihindari.

“Jangan menunggu kondisi menjadi semakin berat. Ketika muncul tanda bahaya seperti nyeri yang sangat hebat dan menetap, perut kaku, perdarahan hebat, muntah darah atau muntah hijau, hingga penurunan kesadaran, segera bawa pasien ke IGD untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan,” lanjut Rihandhika.

Kegawatdaruratan tidak hanya terjadi pada kasus bedah umum, tetapi juga dapat berkaitan dengan kondisi kebidanan maupun cedera kepala. Kehamilan ektopik yang pecah, misalnya, dapat ditandai dengan nyeri perut bawah yang sangat tajam dan mendadak, perdarahan dari jalan lahir, serta pingsan atau syok akibat perdarahan dalam.

Sementara itu, cedera kepala dengan tanda seperti muntah menyembur, penurunan kesadaran bertahap, perbedaan ukuran pupil, atau kejang setelah trauma juga membutuhkan perhatian medis segera.

Alur Penanganan di IGD

Dalam penanganan pasien dengan dugaan kegawatdaruratan bedah, proses pelayanan dimulai melalui triase IGD, yaitu pemeriksaan tanda vital dan penilaian tingkat kegawatan oleh dokter. Selanjutnya dapat dilakukan pemeriksaan penunjang darurat, seperti pemeriksaan laboratorium, USG, maupun rontgen cito sesuai kondisi pasien.

Setelah dilakukan pemeriksaan dan diagnosis medis, pasien dan keluarga mendapatkan edukasi serta proses persetujuan tindakan. Apabila kondisi pasien membutuhkan operasi darurat, pasien kemudian dapat ditransfer langsung ke kamar operasi untuk mendapatkan tindakan pembedahan.

Selain kondisi tersebut, beberapa kegawatdaruratan bedah lain yang perlu diwaspadai meliputi hernia terjepit, patah tulang terbuka, serta infeksi dan abses luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....