Self Harm Anak Berkebutuhan Khusus Bukan Sekadar Tantrum
- 03 Agt 2026 10:38 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm atau self-injury) pada anak berkebutuhan khusus tidak dapat disamakan dengan tantrum biasa meski keduanya sama-sama memunculkan perilaku emosi negatif. Orang tua perlu mengenali penyebab dan pemicunya agar dapat memberikan penanganan yang tepat dan aman ketika kondisi tersebut terjadi.
Pemilik Sekolah Anak Autis & Special Needs Dalta Ozora Madiun, Arif Budhi Santoso, menjelaskan perilaku self-harm tidak hanya terjadi pada anak berkebutuhan khusus, tetapi juga bisa dialami anak tipikal. Namun, perilaku ini memang lebih sering nampak pada anak berkebutuhan khusus karena kendala regulasi emosi dan komunikasi.
Menurut Arif, munculnya perilaku self-harm seperti menggigit tangan atau memukul kepala, umumnya menjadi indikator bahwa anak kebutuhan khusus tersebut berada pada spektrum yang tergolong berat (severe).
"Perilaku self-harm atau self-injury ini lebih sering nampak pada anak berkebutuhan khusus di mana tingkat emosional mereka cenderung labil. Biasanya ini menjadi indikator bahwa si anak berada pada kondisi spektrum yang cukup berat atau severe," ujar Arif, Minggu 2 Agustus 2026.
Arif menjelaskan perilaku self-harm juga dipicu oleh kondisi meltdown akibat overstimulus atau rangsangan lingkungan yang berlebihan. Pemicunya dapat berupa pemicu sensori pendengaran seperti suara keras/bising, penglihatan contohnya cahaya menyilaukan atau gerakan tertentu, sentuhan yang tidak disukai, hingga pemicu vestibular dari posisi tubuh yang membuat anak merasa tidak nyaman. Selain itu, kondisi tantrum juga dapat menjadi penyebab perilaku self-harm.
Meski keduanya menjadi pemicu, Arif mengimbau masyarakat untuk membedakan antara tantrum dan meltdown. Tantrum terjadi ketika keinginan anak tidak terpenuhi. Sementara meltdown merupakan reaksi saat anak mengalami kelebihan beban rangsangan (overstimulus).
Saat menghadapi anak berkebutuhan khusus yang berperilaku self-harm karena tantrum, Arif mengimbau orang tua tetap tenang, turut mengontrol emosi, dan tidak terburu-buru menuruti semua keinginan anak hanya agar perilaku tersebut berhenti, agar anak tidak menjadikan emosi sebagai alat mendapatkan keinginan. Orang tua juga disarankan untuk membatasi bicara, sebab terlalu banyak suara justru membuat anak semakin tidak nyaman.
"Kita amankan lingkungan, kemudian kita tetap kondisi tenang. Biasanya sekitar 15 sampai 20 menit itu sudah cukup menguras tenaga mereka, kita pelan-pelan masuk. Tujuan kita untuk membuat mereka tenang lebih dulu, baru nanti kita berikan apa yang mereka inginkan secara perlahan," jelas Arif.
Sementara itu, jika perilaku self-harm dipicu oleh meltdown atau overstimulus, jelas Arif, prioritas utama adlah menghindarkan anak dari pemicu dan mengurangi sumber rangsangan sensori.
Selain penanganan saat krisis, orang tua juga perlu mengenali tanda-tanda awal (early warning signs) sebelum emosi anak meluap. Arif menyebut perubahan ekspresi wajah, anak mulai gelisah, tidak merespons saat diajak berkomunikasi, hingga menunjukkan gerakan tangan atau keringat dingin dapat menjadi sinyal awal. Jika tanda tersebut mulai terlihat, aktivitas anak sebaiknya segera dialihkan ke kegiatan lain sebelum emosinya meningkat.
Menurut Arif, penanganan sejak dini sangat penting agar perilaku self-harm tidak terbawa hingga usia dewasa. Mengingat setiap anak memiliki profil sensori yang berbeda, orang tua disarankan mengenali pemicunya secara spesifik dan melakukan evaluasi ke tenaga ahli atau profesional jika perilaku tersebut berlanjut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....