Panduan Nutrisi Tepat untuk Cegah Stunting, Dokter Jelaskan Hal Berikut

  • 31 Jul 2026 16:17 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Upaya pencegahan stunting pada anak memerlukan perhatian komprehensif yang dimulai sejak fase persiapan hingga masa kehamilan. Pemenuhan zat gizi mikro dan makro pada ibu hamil menjadi landasan utama dalam menjaga tumbuh kembang janin agar terhindar dari risiko gangguan pertumbuhan sejak berada di dalam kandungan.

Dokter Spesialis Anak asal Madiun, dr. Kirnia Tri Wulandari, Sp.A, M.Biomed, menjelaskan bahwa suplementasi gizi seperti asam folat sangat penting dikonsumsi sejak masa persiapan hingga trimester pertama kehamilan.” Jadi sejak fase persiapan kehamilannya ya, suplementasi vitamin itu sangat penting, terutama asam folat ya. Kemudian pada saat sudah menjelang hamil, dan dinyatakan hamil, otomatis ya kita harus berikan mikro makronutrien serta suplementasi yang baik kepada ibu hamilnya, terutama di trimester pertama di fase

Organogenesis,” Jelas dr. Nia sapaanya.

Pada fase organogenesis atau pembentukan organ tubuh janin ini, ibu hamil wajib mendapatkan asupan gizi yang memadai. Bahkan termasuk pemenuhan kalori yang cukup dan prioritas konsumsi protein hewani.

Setelah bayi lahir, Air Susu Ibu (ASI) menjadi nutrisi terbaik yang wajib diberikan secara eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Pemberian ASI dianjurkan untuk terus dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun, yang didampingi dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) secara bertahap mulai usia enam bulan sesuai kecukupan usianya.

“Nah, saat sudah lahir bagaimana untuk nutrisi pada bayi atau anak? Ya, sebenarnya kalau idealnya bahwa nutrisi terbaik untuk bayi adalah ASI. Mulai dari 0 hingga enam bulan untuk ASI eksklusif, kemudian dilanjutkan hingga usia 2 tahun, sedangkan pemberian MPASI mulai usia 6 bulan dan idealnya memang kita sesuaikan dengan usianya,”jelas dr. Nia.

Lebih mendalam, dr. Nia juga menjelaskan jika dalam skema pemberian nutrisi anak, rasio MPASI dan cairan harus disesuaikan dengan kelompok umur balita. Bagi anak berusia di bawah satu tahun, komposisi nutrisi ideal terdiri dari 30 persen makanan padat dan 70 persen makanan cair (ASI atau susu formula) sedangkan memasuki usia di atas satu tahun, porsi tersebut dibalik menjadi 70 persen makanan padat dan 30 persen makanan cair.

Di samping itu, kelengkapan gizi harian anak wajib memperhatikan keseimbangan karbohidrat, lemak, dan protein. Karbohidrat dibutuhkan sekitar 50 hingga 60 persen dari total kalori harian, sedangkan lemak berkisar antara 10 hingga 15 persen.

“Protein hewani tetap menjadi prioritas utama karena mengandung asam amino esensial. Nutrisi ini sangat penting untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak,”ungkap Dokter spesialis anak asal Madiun.

Dalam pemaparannya, dr. Nia juga menyoroti terkait kendala pemberian ASI eksklusif yang kerap dialami oleh ibu bekerja. Ia menekankan pentingnya melakukan analisis terhadap penyebab utama hambatan tersebut.

Apabila kendala bersumber dari produksi ASI yang minim, langkah penanganan dapat dilakukan melalui pemberian suplementasi pelancar ASI serta perbaikan kualitas nutrisi harian ibu. Namun, apabila terdapat indikasi medis atau penyakit tertentu yang menghalangi ibu untuk menyusui secara langsung, alternatif nutrisi lain dapat dipertimbangkan.

Penggunaan ASI donor maupun pemberian susu formula dengan kondisi medis khusus dapat menjadi solusi medis agar kebutuhan kalori dan tumbuh kembang bayi tetap terpenuhi secara optimal. Lebih lanjut, ia juga menegaskan bahwa melalui analisis medis yang tepat serta pemenuhan gizi yang terencana dari masa kehamilan hingga balita, potensi stunting pada anak dapat dicegah bahkan ditekan secara maksimal. Hal ini dapat terwujud tentunya dengan adanya kerja sama antara ibu, dan seluruh anggota keluarga lainnya. Selain itu, tenaga kesehatan sangat diperlukan dalam mengawal setiap tahapan ketersediaan nutrisi demi mewujudkan generasi yang sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....