Pentingnya Skrining Prakehamilan dan Nutrisi Dini untuk Cegah Stunting

  • 31 Jul 2026 16:22 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Praktik pencegahan stunting pada anak tidak lagi terbatas pada masa pertumbuhan setelah bayi dilahirkan. Perlunya intervensi medis serta pemenuhan gizi harus diupayakan sedini mungkin, bahkan sejak masa sebelum hamil atau prakehamilan dan atau sebelum pasangan menikah.

Dokter Spesialis Anak, sekaligus anggota dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Madiun, dr. Kirnia Tri Wulandari, Sp.A, M.Biomed menyampaikan bahwa persiapan kehamilan yang matang menjadi fondasi utama dalam melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas. Pasangan yang merencanakan kehamilan sangat disarankan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan atau skrining pranikah yang berguna mengidentifikasi risiko penyakit menular maupun kelainan genetik.

“Pemeriksaan dan skrining penyakit sebelum kehamilan sangat penting dilakukan untuk mendeteksi infeksi atau penyakit genetik yang berpotensi menurunkan kualitas tumbuh kembang anak hingga memicu stunting. Selain persiapan sebelum hamil, pelayanan Antenatal Care (ANC) yang berkualitas selama masa kehamilan juga menjadi kunci agar janin dapat tumbuh optimal serta terhindar dari risiko stunting saat janin di dalam rahim." Jelas dr. Kirnia kepada RRI Madiun.

Pemeriksaan sebelum kehamilan bertujuan untuk mendeteksi potensi penyakit yang dapat diturunkan atau memicu gangguan perkembangan pada janin. Salah satu fokus skrining yang sangat krusial adalah penanganan infeksi menular seperti TORCH (Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex), yang berisiko memicu kelainan bawaan pada bayi.

Lebih lanjut, dr. Kirnia juga menekankan bahwa selain skrining kesehatan fisik, pemenuhan suplementasi mikro dan makronutrien pada ibu memegang peranan kunci. Konsumsi asam folat secara teratur sebelum kehamilan, serta pemenuhan zat besi (FE) dan multivitamin selama masa kehamilan, sangat diperlukan untuk mendukung fase organogenesis atau pembentukan organ tubuh janin.

Memasuki masa melahirkan hingga usia balita, pemenuhan nutrisi bayi wajib dilanjutkan melalui pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama. Setelahnya, MPASI berbasis protein hewani yang kaya asam amino esensial harus diperkenalkan secara bertahap sesuai proporsi usia anak untuk mengoptimalkan pertumbuhan fisik.

“ Nah untuk anak yang telah lahir, suplementasi harian seperti zat besi dan vitamin D dianjurkan guna mencegah anemia serta masalah defisiensi gizi kronis. Penggunaan probiotik juga disarankan untuk mendukung kesehatan sistem pencernaan, yang kerap disebut sebagai pusat metabolisme serta organ vital kedua dalam tumbuh kembang anak,” jelasnya

Di samping pemenuhan asupan nutrisi, pencegahan stunting dari sisi medis juga melibatkan pemberian obat cacing secara berkala. Lantaran, infeksi cacingan sangat berbahaya karena dapat menyerap nutrisi penting di dalam usus sehingga memicu malnutrisi kronis pada balita.

Melalui pendekatan medis yang komprehensif dari prakehamilan hingga masa balita, risiko terjadinya stunting dapat diminimalkan secara signifikan. Penting bagi orang tua untuk aktif berkonsultasi dengan dokter anak dan ahli gizi agar pemantauan tumbuh kembang dapat berjalan sesuai standar yang berlaku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....