Dokter Bedah: Ulkus Diabetikum Tidak Selalu Berujung Amputasi

  • 21 Jul 2026 13:42 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Ulkus diabetikum atau luka pada penderita diabetes tidak selalu berakhir dengan tindakan amputasi. Dokter Spesialis Bedah RS DKT Kota Madiun, Riston Regor, menegaskan peluang kesembuhan tetap terbuka apabila luka dideteksi dan ditangani dengan benar.

dr. Riston menjelaskan, amputasi bukan penanganan utama pada seluruh kasus ulkus diabetikum. Tindakan tersebut hanya dilakukan pada kondisi berat, misalnya ketika infeksi telah menyebabkan kematian jaringan akibat ulkus iskemik atau telah menyebar hingga ke tulang (osteomielitis).

"Penanganan amputasi itu ada klasifikasinya. Kalau ulkus iskemik menyebabkan kematian jaringan bahkan sampai osteomielitis atau infeksi sudah sampai ke tulang, tidak ada penanganan lain selain amputasi. Tetapi secara garis besar, ulkus diabetikum tidak selalu harus ditangani dengan amputasi," ujarnya dalam program AE Raya Menyapa Pro 1 RRI Madiun, Senin (20/7/2026).

Ia menjelaskan ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi akibat diabetes yang tidak terkontrol. Luka ini paling sering terjadi pada anggota gerak bawah atau kaki karena area tersebut kerap mengalami tekanan dan gesekan saat beraktivitas.

Kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol berisiko merusak saraf tepi dan pembuluh darah. Kerusakan saraf membuat penderita tidak merasakan sakit saat timbul luka, sedangkan gangguan pembuluh darah menghambat aliran darah yang dibutuhkan untuk penyembuhan.

Akibatnya, luka kecil akibat tertusuk duri, tersandung batu, atau lecet akibat aktivitas sehari-hari kerap tidak disadari, kemudian berkembang, dan rawan terinfeksi jika tidak segera ditangani.

"Jadi luka terbuka apa pun artinya terpapar dengan dunia luar. Kuman secara otomatis bisa masuk, menginfeksi jaringan, dan menyebabkan terjadinya ulkus," tambahnya.

dr. Riston menyebut terdapat tiga jenis ulkus diabetikum, yaitu ulkus neuropatik akibat kerusakan saraf, ulkus iskemik akibat gangguan aliran darah, serta ulkus neuroiskemik yang merupakan kombinasi keduanya. Masing-masing memiliki gejala yang berbeda.

Pada ulkus neuropatik, penderita umumnya tidak merasakan nyeri meski telah muncul luka. Sementara pada ulkus iskemik, keluhan yang sering muncul berupa nyeri disertai perubahan warna jari kaki menjadi pucat, kebiruan, hingga menghitam akibat terganggunya aliran darah.

Karena itu, dr. Riston mengimbau penderita diabetes untuk memeriksa kondisi kaki secara rutin, terutama jika mulai muncul mati rasa, luka yang tidak disadari, perubahan warna pada kaki atau jari kaki, maupun luka yang tidak kunjung sembuh.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan penanganan luka secara sembarangan, seperti menaburkan kopi, tepung, maupun merendam kaki dengan air hangat karena berpotensi memperparah infeksi.

"Kalau ada luka, bersihkan dengan air mengalir atau cairan infus. Jangan memasukkan zat-zat lain ke dalam luka karena kita tidak tahu kebersihannya. Kalau tidak membaik atau sudah ada tanda infeksi seperti nanah, kemerahan, panas, atau perubahan warna, segera periksakan ke dokter," katanya.

dr. Riston menambahkan penanganan ulkus diabetikum tidak cukup hanya berfokus pada perawatan luka. Pengendalian kadar gula darah, kepatuhan mengonsumsi obat, penerapan pola makan yang sesuai, serta perawatan luka yang tepat harus dilakukan secara bersamaan agar peluang kesembuhan semakin besar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....