Transisi ke Perguruan Tinggi jadi Tantangan Baru bagi Remaja Penyandang Autisme

  • 18 Jul 2026 15:35 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Remaja penyandang autisme menghadapi tantangan baru setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah reguler. Perubahan rutinitas yang terjadi saat memasuki masa transisi menuju perguruan tinggi maupun dunia kerja berpotensi memunculkan kembali perilaku autistik dan meningkatkan kecemasan apabila tidak diimbangi dengan pendampingan yang tepat.

Pemilik Sekolah Anak Autis dan Special Need Dalta Ozora Madiun, Arif Budhi Santoso, mengatakan selama menjalani pendidikan di sekolah reguler, penyandang autisme terbantu dengan jadwal harian yang terstruktur. Namun, setelah lulus sekolah, mereka harus beradaptasi dengan aktivitas yang lebih fleksibel sehingga membutuhkan kemampuan penyesuaian diri yang lebih besar.

"Kalau masih sekolah, anak sudah hafal kapan harus bangun, berangkat, belajar, dan pulang karena semua berlangsung rutin setiap hari. Begitu lulus SMA dan menunggu kuliah, rutinitas itu hilang. Akibatnya, sebagian anak mulai mengalami kecemasan, menjadi lebih pasif, bingung mengisi waktu luang, bahkan muncul kembali perilaku autistik seperti mondar-mandir, menggerakkan tangan berulang-ulang, atau mudah marah," ujarnya dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro 1 RRI Madiun belum lama ini.

Perilaku itu sebenarnya dilakukan untuk membuat dirinya merasa tenang ketika tidak memiliki jadwal harian yang pasti. Menurut Arif, tantangan tersebut akan semakin terasa ketika penyandang autisme mulai memasuki dunia perkuliahan.

Jadwal kuliah yang berubah-ubah, lingkungan baru, serta tuntutan interaksi sosial yang lebih luas dapat menjadi sumber tekanan bagi mereka.

Ia menuturkan, penyandang autisme ringan atau high function autism sebenarnya memiliki kemampuan akademik yang baik bahkan mampu lolos ke perguruan tinggi. Namun, yang menjadi perhatian bukanlah kemampuan intelektualnya, melainkan kesiapan beradaptasi terhadap perubahan rutinitas dan lingkungan sosial.

"Yang kami khawatirkan bukan kemampuan belajarnya, karena banyak anak autisme ringan yang nilainya bagus dan mampu masuk perguruan tinggi. Tantangan terbesar justru saat mereka harus menyesuaikan diri dengan jadwal kuliah yang tidak tetap, bertemu banyak orang baru, dan membangun relasi sosial secara mandiri. Kalau proses transisi ini tidak didampingi dengan baik, mereka bisa mengalami kelelahan sosial (autistic burnout), kehilangan motivasi untuk berinteraksi, lebih sering mengurung diri, hingga kemampuan adaptasi yang sudah terbentuk selama sekolah menjadi perlahan menurun," jelasnya.

Arif menambahkan, kondisi tersebut bukan berarti penyandang autisme mengalami kemunduran permanen. Menurutnya, perubahan perilaku pada masa transisi merupakan fase yang wajar sehingga orang tua perlu tetap memberikan pendampingan, menjaga rutinitas harian, serta membantu anak mempersiapkan diri sebelum memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun dunia kerja.

Pendampingan yang berkelanjutan diharapkan dapat membantu penyandang autisme mempertahankan kemampuan adaptasi dan kemandiriannya sehingga lebih siap menghadapi perubahan lingkungan setelah lulus dari sekolah reguler.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....