Bukan Asal Stimulasi, Berikut 3 Prinsip Penting Pemberian Multisensori Anak
- 30 Jun 2026 21:29 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Mengajar anak dengan disabilitas intelektual memerlukan strategi khusus agar informasi yang disampaikan dapat melekat kuat di dalam memori jangka panjang mereka. Pendekatan multisensori kini menjadi metode yang paling direkomendasikan karena mampu mengaktifkan berbagai indra sekaligus.
Kepada RRI Madiun, dalam Program Ruang Disabilitas dan Inklusi, Terapis sekaligus Founder Sekolah Special Needs & Autism Dalta Ozora Madiun, Arif Budhi Santoso menegaskan bahwa meskipun metode tersebut direkomendasikan, namun penerapannya pun tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
“ Anak dengan disabilitas intelektual, ketika diberikan pendekatan multisensori yang bekerja dengan cara mengintegrasikan berbagai indra. Mulai dari penglihatan, pendengaran, sentuhan, hingga gerakan tubuh saat proses belajar mengajar berlangsung, jangan sampai akan membuat anak merasa jenuh atau justru mengalami stres,” jelas Arif.
Sejumlah prinsip penting pun juga wajib dipahami oleh orang tua dan pendidik dalam memberikan input sensori. “Prinsip pertama dan yang paling mendasar adalah memahami profil sensori unik dari setiap anak,” sebut Arif.
Penting untuk diketahui bahwa ada anak yang bersifat hipersensitif atau sangat sensitif terhadap suara kencang dan tekstur tertentu. Namun ada pula yang hiposensitif sehingga membutuhkan stimulasi kuat seperti remasan untuk bisa fokus.
Selanjutnya untuk prinsip yang kedua adalah melakukan proses pemberian input sensori secara bertahap dan terencana. Orang tua atau guru dilarang keras memberikan semua stimulasi indra secara sekaligus dalam satu waktu karena berisiko memicu sensory overload atau kewalahan sensori.
Perlu digarisbawahi bahwa langkah terbaik adalah memulainya dengan kombinasi sederhana seperti visual dan taktil (sentuhan) terlebih dahulu. Selanjutnya, barulah menambahkan komponen auditori (suara) secara perlahan setelah anak merasa nyaman.
"Konsistensi dan repetisi adalah kunci utama. Anak dengan disabilitas intelektual membutuhkan pengulangan materi yang jauh lebih sering agar informasi baru yang mereka terima bisa menetap dengan baik di dalam memori jangka panjang," jelasnya lebih lanjut.
Saat di rumah, orang tua dapat menerapkan input taktil dengan menggunakan benda konkret, seperti mengajak anak berhitung menggunakan buah-buahan asli daripada sekadar melihat gambar di buku. Sedangkan untuk aspek visual, gunakan pengodean warna (color-coding) yang konsisten, misalnya warna merah untuk menandakan tanda berhenti atau bahaya.
Lebih lanjut untuk sisi auditori, ciptakan suasana ruang belajar dengan suara latar yang tenang serta bebas dari bising eksternal agar fokus anak tidak terpecah.
Melatih anak dengan kebutuhan khusus memang memerlukan kesabaran ekstra tinggi dan metodologi yang tepat sasaran. Dengan memahami profil sensori anak serta menerapkan stimulasi secara konsisten, orang tua dapat membantu buah hati mereka melewati batasan kognitifnya demi masa depan yang lebih mandiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....