Gagal Masuk Kampus Impian, Berikan Anak Ruang Berduka

  • 30 Jun 2026 16:16 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Pengumuman penerimaan mahasiswa baru sering kali menjadi momen yang mendebarkan sekaligus emosional bagi remaja.

Ketika ekspektasi tidak sejalan dengan realita akibat gagal masuk kampus impian, dampaknya ternyata tidak sesederhana yang dikira. l

Psikolog anak sekaligus Dosen Psikologi, Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikologi, memaparkan bahwa pentingnya anak diberikan ruang berduka karena menghadapi kegagalan tersebut.

“Kegagalan ini kerap kali memicu fase kedukaan mendalam pada diri anak karena hilangnya bayangan masa depan yang telah mereka susun,” jelas Robik, sapaan akrabnya.

Lebih lanjut menurut Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Kota Madiun tersebut, bahwa momen kegagalan ini sebenarnya cukup menggelitik secara psikologis.

Pasalnya, hantaman keras tersebut tidak hanya melukai ego sang anak yang sedang bertransisi menuju dewasa awal, tetapi sering kali juga mencederai ego orang tua mereka sendiri.

Robik menjelaskan bahwa kekeliruan terbesar yang kerap dilakukan orang tua di fase kritis ini adalah langsung melompat pada tahap penyelesaian masalah (problem solving). Ketika anak sedang terpukul, orang tua cenderung terburu-buru memberikan arahan tanpa adanya ruang diskusi.

“Jadi orang tua sering kali mengarahkan anak untuk mendaftar ke kampus swasta. Ada juga yang mungkin langsung menyuruh bersiap mencoba lagi di tahun depan, tetapi tanpa merangkul atau memberikan validasi emosi anak terlebih dahulu,” ucapnya

"Padahal pada saat ini, secara psikologis seorang anak sedang mengalami fase kedukaan atau grief atas hilangnya ekspektasi masa depan. Mereka ingin kuliah di kampus pilihan mereka, dan ketika itu hilang, ada rasa kehilangan yang nyata," ujar Robik kepada RRI Madiun

Lebih lanjut, Robik mengingatkan orang tua untuk menghindari jebakan toxic positivity, seperti kalimat "ambil saja hikmahnya", secara instan. Alih-alih menenangkan, kalimat tersebut justru bisa menyumbat emosi negatif yang seharusnya dikeluarkan.

Tugas pertama orang tua saat mendapati anak gagal justru menjadi wadah atau tangki penampung emosi bagi anak mereka. Orang tua diharapkan bisa menyediakan ruang yang aman agar anak dapat menjalani fase berduka ini secara sehat.

Robik menegaskan pentingnya memvalidasi emosi anak dengan membiarkan mereka menangis atau mengekspresikan kekecewaannya. Pada tahap awal ini, orang tua sangat dilarang untuk terburu-buru memberikan nasihat atau menceramahi anak yang sedang rapuh.

Melalui pendekatan yang tepat, fase kedukaan ini dapat dilewati dengan baik tanpa meninggalkan trauma psikologis.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....