Mengapa Anak sering Mengabaikan Orang Tua? Simak Penjelasan Psikolog
- 29 Jun 2026 13:52 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Sikap anak yang sering mengabaikan ucapan atau perintah orang tua kerap kali memicu rasa frustrasi di dalam keluarga. Namun, fenomena ini ternyata tidak selalu disebabkan oleh faktor kesengajaan atau bentuk pembangkangan dari anak.
Psikolog anak di Madiun, Robik Anwar Dani, M.Psi, Psikolog., menjelaskan bahwa ada berbagai faktor yang mendasari mengapa anak kerap kali bersikap tidak responsif terhadap instruksi orang tua.
“Ada beberapa alasan yang perlu dipahami karena tidak selalu karena anak itu tidak hormat atau sengaja melawan orang tuanya gitu. Jadi, bisa jadi karena yang pertama perkembangan otak anak dan remaja itu kan memang belum sepenuhnya matang begitu ya,” jelas Robik, kemarin.
Kemampuan regulasi emosi, dan atau anger management masih dalam proses pertumbuhan gitu. Lebih lanjut, Robik mengungkapkan bahwa bagian otak yang berperan dalam pengendalian diri, perencanaan, mempertimbangkan konsekuensi itu masih berkembang atau dalam tahapan dari remaja menuju ke dewasa awal gitu.
Akibat dari kondisi tersebut akhirnya anak menjadi lebih sering fokus pada hal yang menarik perhatiannya dibandingkan dengan instruksi seperti ucapan atau perintah dari orang tua.
Selain faktor perkembangan otak, kondisi psikologis yang disebut sebagai "kelelahan instruksi" (instruction fatigue) disebutkan Robik menjadi pemicu utama.
Dalam keseharian, seorang anak bisa jadi menerima terlalu banyak perintah, teguran, dan koreksi secara bertubi-tubi dari lingkungan sekitarnya, terutama orang tua.
“Jadi akibat penumpukan instruksi yang berlebihan tersebut, kapasitas perhatian anak menjadi terbatas. Kemudian, sampai pada titik dimana secara alami mereka menjadi kurang responsif sebagai bentuk pertahanan diri,” papar Dosen Psikologi UKWMS Kampus Kota Madiun itu.
Selanjutnya pemicu terjadinya pengabaian oleh anak kepada orang tua adalah gaya atau pola komunikasi dari orang tua itu sendiri.
“Faktor ketiga ini juga tidak boleh diabaikan terkait gaya komunikasi dari orang tua itu sendiri. Sering kali, instruksi yang disampaikan kepada anak terlalu panjang, bertele-tele, dan diucapkan secara berulang-ulang,” ungkap Robik.
| Baca juga: Ahli Ingatkan Bahaya Paparan Gawai pada Anak |
Pola penyampaian yang kurang efektif akan membuat anak kehilangan fokus. Meskipun anak secara fisik mendengar suara orang tua, mereka tidak benar-benar hadir secara penuh (mindful) terlebih untuk memproses dan mencerna maksud dari pesan yang disampaikan.
Keempat, seiring bertambahnya usia, kebutuhan akan otonomi diri juga mengalami peningkatan yang signifikan, khususnya pada fase anak-anak akhir menjelang remaja. Pada periode transisi ini, anak sedang belajar menjadi individu yang mandiri dan mulai menunjukkan keinginan serta independensinya.
Akibatnya, mereka cenderung menunjukkan resistensi atau penolakan terhadap perintah-perintah dari orang tua yang dirasa terlalu mengontrol kebebasan mereka.
“Dan yang terakhir mungkin bisa jadi ada faktor emosional. Bisa jadi memang anak itu yang marah, kecewa, cemas, lelah, taat, kemudian merasa bahwa hubungannya dengan orang tua cenderung sulit, apalagi adanya jarak antara generasi atau generation gap,” ucap Robik.
Oleh karena itu, Robik menekankan ketika anak menunjukkan sikap abai atau tidak patuh, orang tua disarankan tidak langsung memberikan label negatif kepada anak. Langkah terbaik yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi kembali kualitas hubungan dan pola komunikasi yang selama ini terbangun di dalam rumah.
Selain itu juga mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik sikap diamnya anak. Hal ini akan jauh lebih efektif daripada sekadar menuntut kepatuhan sepihak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....