Dibalik Luka Kepercayaan: Menakar Fenomena “Trust Issue” di Era Modern
- 27 Mei 2026 01:07 WIB
- Madiun
Poin Utama
- Kepercayaan
- Kesehatan mental
- Pasangan
RRI.CO.ID, Ponorogo - Istilah trust issue atau kesulitan untuk memercayai orang lain kini menjadi perbincangan hangat, terutama di kalangan Generasi Z.
Dosen psikologi Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Afitria Rizkiana, menjelaskan bahwa trust issue bukanlah sekadar kekhawatiran biasa. Menurutnya, kondisi ini merupakan bentuk kesulitan seseorang untuk membangun rasa percaya dalam berbagai relasi, mulai dari keluarga, pertemanan, hingga pasangan.
“Bahwa trust issue sering kali berakar dari pengalaman masa lalu, khususnya terkait konsistensi hubungan antara anak dan orang tua. Selain itu menurut Attachment Theory atau Teori Kelekatan menyimpulkan bahwa masa kecil seseorang merasa diabaikan atau kasih sayangnya tidak dipenuhi, sehingga akan cenderung tumbuh menjadi pribadi yang mudah curiga dan sulit percaya pada orang lain saat dewasa,” ucapnya.
Perempuan yang akrap disapa Afitria itu juga menyebutkan bahwa pola asuh, pengkhianatan dalam hubungan asmara maupun pertemanan, seperti difitnah atau dikecewakan, juga menjadi pemicu dominan munculnya benteng pertahanan emosional yang berlebihan.
Jika tidak segera ditangani, trust issue berisiko menciptakan lingkungan yang toksik, yang pada akhirnya dapat memicu kondisi kesehatan mental yang lebih berat seperti depresi, kecemasan, hingga overthinking yang kronis.
Menghadapi trust issue membutuhkan waktu, kejujuran pada diri sendiri, dan keberanian untuk kembali membuka pintu kepercayaan.
Afitria menekankan pentingnya komunikasi yang jujur dan terbuka dapat menjadi titik awal untuk memulihkan rasa percaya.
"Komunikasi bukan sekadar ngobrol, tapi bagaimana membangun empati dan menciptakan lingkungan yang aman bagi seseorang untuk kembali merasa nyaman," jelasnya.
Dampak nyata dari trust issue ini dirasakan langsung oleh IF (23) tahun, seorang narasumber yang sempat berbagi kisahnya. Bagi IF, trust issue muncul setelah ia merasa telah memberikan segalanya untuk pasangannya, namun berakhir dikhianati.
"Awalnya saya tidak pernah merasa overprotective atau posesif. Tapi setelah dibohongi pertama kali, muncul kecurigaan dan pikiran yang tidak-tidak," kata IF.
Baginya, pengalaman pahit tersebut meninggalkan bekas yang membuat kedekatan dengan seseorang terasa tidak lagi sama. IF juga menyoroti perbedaan cara menghadapi masalah ini antara laki-laki dan perempuan. Menurut pengamatannya, perempuan cenderung lebih terbuka untuk bercerita kepada sahabat, sementara laki-laki sering kali merasa gengsi atau dianggap rendah jika harus berbagi kerapuhan mereka kepada sesama teman pria.
Meskipun menyakitkan, trust issue bukanlah sebuah gangguan mental permanen, melainkan sebuah persoalan (problem) yang bisa disembuhkan. Kuncinya terletak pada dua aspek: dukungan sosial dan bantuan profesional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....