Cara Bijak Orang Tua, Sikapi Anak dengan Gangguan Bicara

  • 29 Apr 2026 14:34 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Buah hati ketika mengalami keterlambatan atau gangguan bicara sering kali memicu kekhawatiran mendalam bagi orang tua. Namun, sikap yang terlalu menuntut, reaktif atau bahkan mengabaikannya justru dapat menghambat perkembangan sang anak, perlu sikap bijak yang dilakukan dalam menghadapinya.

Terapis sekaligus Founder Sekolah Anak Autis & Special Needs Dalta Ozora Madiun, Arif Budi Santoso kepada RRI Madiun menekankan pentingnya pendekatan yang tenang dan strategis dalam menstimulasi kemampuan komunikasi anak. “ Jadi kunci utama dalam menghadapi anak dengan gangguan bicara bukan terletak pada seberapa cepat mereka bicara dengan jelas, melainkan pada bagaimana orang tua membangun rasa percaya diri anak untuk berkomunikasi,” jelas Arif.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua secara bijak dalam menghadapi anak dengan gangguan bicara:

1. Koreksi Tanpa Menghakimi

Sering kali orang tua merasa gemas dan langsung menyalahkan anak ketika terjadi salah ucap, misalnya saat anak menyebut "susu" menjadi "cucu". Menurut Arif, sikap menyalahkan atau memaksa anak mengulang kata secara keras justru dapat membuat anak merasa gagal dan tidak mau mencoba lagi.

"Jangan menuntut kejelasan terlalu dini. Jika anak menyebut 'susu' dengan 'cucu', jangan disalahkan atau dipaksa mengulang dengan benar secara keras. Cukup koreksi dengan memberikan contoh yang benar melalui kalimat tanya atau pernyataan, seperti 'Oh, adik mau susu? Ini susunya’,” ujar Arif.

2. Mengutamakan jumlah kosakata

Sering kali orang tua fokus pada kejelasan suara daripada kuantitas atau jumlah kosakata. Padahal, sebelum mampu berbicara dengan fasih, seorang anak harus memiliki tabungan kata yang cukup dalam memori mereka.

Orang tua disarankan untuk terus mengasah kemampuan anak dengan berbagai kosakata baru dalam aktivitas sehari-hari. Selain itu menjaga fokus agar anak mengenal banyak nama benda dan aktivitas terlebih dahulu sebelum menuntut pengucapan yang sempurna.

3. Menyikapi tantrum anak dengan aktivitas fisik

Arif menyebut bahwa gangguan bicara seringkali beriringan dengan tingkat emosional pada anak. Anak yang kesulitan mengekspresikan keinginannya lewat kata-kata cenderung akan merasa frustasi, yang kemudian memicu ledakan emosi atau tantrum. “Kemampuan bicara itu linier dengan stabilitas emosi, maka dari itu orang tua perlu mencari saluran alternatif agar energi negatif dan rasa frustasi anak tidak menumpuk,” ucap Arif.

Selain melakukan tata laksana seperti terapi wicara, aktivitas fisik lain disarankan seperti berenang atau bermain bola. Aktivitas ini membantu menyalurkan energi negatif tersebut sehingga anak menjadi lebih tenang, sehingga ketika emosinya stabil, proses stimulasi bicara pun akan menjadi lebih efektif.

4. Menjadi Pendengar yang Sabar

Menghadapi anak dengan gangguan bicara membutuhkan kesabaran ekstra. Sikap bijak orang tua dimulai dengan menjadi pendengar yang baik, memperhatikan gestur anak, dan memberikan respon positif terhadap setiap usaha komunikasi yang dilakukan anak, sekecil apa pun itu.

Arif juga selalu menekankan pembatasan waktu anak mengakses gadget terlebih larangan bagi anak dibawah usia 2 tahun. Pendampingan orang tua juga tetap dilakukan selama anak menggunakan gawai, selain untuk menjalin interaksi juga.

Terakhir, Arif menegaskan bahwa dengan perpaduan antara stimulasi kosakata yang tepat, pengelolaan emosi melalui aktivitas fisik, dan lingkungan rumah yang minim tekanan, proses tumbuh kembang bicara anak diharapkan dapat berjalan lebih optimal dan menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....