Bagaimana Mengatasi Fenomena “Marriage Is Scary”
- 28 Mar 2026 22:14 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Fenomena “marriage is scary” yang ramai di media sosial menjadi refleksi keresahan generasi Z dan milenial terhadap pernikahan. Berbagai konten yang menampilkan sisi negatif hubungan hingga standar pernikahan yang tinggi turut memengaruhi cara pandang anak muda.
Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa paparan informasi di media sosial dapat membentuk persepsi yang tidak selalu utuh tentang pernikahan.
“Media sosial seringkali hanya menampilkan dua sisi ekstrem, sangat bahagia atau sangat bermasalah. Padahal realitanya jauh lebih kompleks,” ujarnya pada Jumat 27 Maret 2026.
Menurutnya, langkah pertama untuk mengatasi fenomena ini adalah dengan meningkatkan kesadaran diri terhadap apa yang dikonsumsi di media sosial. Tidak semua konten perlu dipercaya atau dijadikan acuan dalam mengambil keputusan hidup.
Selain itu, penting untuk membatasi paparan konten yang memicu kecemasan. Mengurangi waktu scrolling atau memilih konten yang lebih edukatif dapat membantu menjaga kesehatan mental.
“Jangan sampai kita membangun ketakutan dari pengalaman orang lain yang belum tentu relevan dengan kondisi kita,” jelas Andi.
Ia juga menyarankan agar individu mulai membangun perspektif yang lebih realistis tentang pernikahan. Tidak ada hubungan yang sempurna, namun bisa dijalani dengan komunikasi dan komitmen yang sehat.
Diskusi terbuka dengan orang terpercaya, seperti keluarga atau teman, juga dapat membantu memperluas sudut pandang dan mengurangi kecemasan yang berlebihan.
Selain itu, penting untuk fokus pada kesiapan diri, bukan tekanan sosial. Setiap orang memiliki waktu dan proses yang berbeda dalam menentukan keputusan menikah.
Andi menekankan bahwa rasa takut adalah hal yang wajar, namun tidak seharusnya menjadi penghalang untuk memahami hubungan secara lebih sehat.
“Alih-alih menghindari, lebih baik kita mengenali sumber ketakutan tersebut dan mempersiapkan diri dengan lebih matang,” tambahnya.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa media sosial hanyalah salah satu sumber informasi, bukan penentu keputusan hidup. “Pernikahan adalah pilihan personal, jadi jangan biarkan algoritma yang menentukan arah hidup kita,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....