Body Shaming Berkedok Komentar di Media Sosial?
- 24 Mar 2026 01:26 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Fenomena body shaming di media sosial masih marak terjadi, bahkan kerap terselip dalam bentuk komentar yang dianggap “bercanda” atau “saran”. Padahal, praktik ini dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental, terutama bagi generasi muda yang aktif di ruang digital.
Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa body shaming tidak selalu muncul dalam bentuk hinaan langsung, tetapi juga bisa berupa komentar halus yang merendahkan kondisi fisik seseorang.
“Komentar seperti ‘kok sekarang gemukan?’ atau ‘harusnya lebih kurus biar menarik’ sering dianggap biasa, padahal itu bisa melukai secara psikologis,” ujarnya, Kamis 19 Maret 2026.
Menurutnya, paparan body shaming secara terus-menerus dapat memicu gangguan pada citra diri atau Body Image, di mana individu mulai merasa tidak puas dengan penampilan fisiknya sendiri.
Dampak lanjutan yang bisa muncul adalah penurunan kepercayaan diri, kecemasan sosial, hingga gangguan mental seperti Depression. Remaja menjadi lebih rentan membandingkan diri dengan standar kecantikan yang tidak realistis di media sosial.
“Masalahnya, ini sering terjadi di ruang publik digital, sehingga korban merasa dipermalukan di depan banyak orang,” tambahnya.
Selain itu, Andi menyoroti budaya normalisasi komentar fisik di media sosial yang dianggap sebagai bentuk perhatian atau candaan. Padahal, tanpa disadari, hal tersebut dapat memperparah tekanan psikologis pada korban.
Ia menegaskan pentingnya kesadaran dalam berkomentar di ruang digital. Setiap individu perlu memahami batasan antara opini dan bentuk penghinaan terhadap fisik orang lain.
“Kalau tidak bisa memberi komentar yang membangun, lebih baik tidak perlu berkomentar sama sekali,” tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....