“Balas Dendam” saat Berbuka Memiicu Risiko Gangguan Pencernaan dan Metabolisme
- 23 Feb 2026 08:08 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Menahan lapar dan haus seharian kerap berujung pada satu kebiasaan yang dianggap wajar saat berbuka puasa, yakni makan berlebihan sebagai pelampiasan. Padahal, kebiasaan “balas dendam” ketika berbuka justru memberikan risiko tidak baik bagi pencernaan dan metabolisme tubuh.
Ahli gizi di Kota Madiun, Nikmahtul Fadilla, menyebutkan terdapat sejumlah risiko yang dapat muncul ketika seseorang langsung makan dan minum secara berlebihan saat berbuka puasa. Risiko pertama adalah lonjakan gula darah dan insulin yang tidak baik bagi kerja metabolisme tubuh.
“Kita sudah menahan lapar dan dahaga dari pagi sampai malam hari. Terus mentang-mentang kita buka puasa, langsung tancap gas minum es sirup atau es blewah satu gelas besar. Itu tidak baik bagi tubuh, karena akan ada lonjakan glukosa darah dan insulin yang tajam,” ujar Nikmahtul, Rabu 18 Februari 2026.
Risiko berikutnya adalah terjadinya refluks asam lambung atau naiknya asam lambung. Menurutnya, lambung yang kosong selama berjam-jam akan lebih sensitif jika langsung menerima makanan dalam porsi besar. Karena itu, ia menyarankan masyarakat mengawali berbuka dengan takjil atau makanan ringan sebelum mengonsumsi makanan utama.
Selain itu, makan dalam jumlah besar secara sekaligus juga berisiko menyebabkan perut kembung dan gangguan pencernaan. Kondisi tersebut kerap disertai rasa kantuk berat akibat meningkatnya kadar gula darah setelah berbuka.
Nikmahtul menambahkan sejumlah studi metabolik selama Ramadan menunjukkan bahwa makan dalam porsi besar sekaligus dapat meningkatkan stres oksidatif dan beban metabolik dibandingkan pola makan bertahap. “Jadi kalau kita langsung tancap gas dengan makan yang banyak itu risikonya ke mana-mana,” katanya.
Berbagai risiko yang muncul, ditambah stres oksidatif dan beban metabolik yang tinggi, tidak hanya memicu meningkatnya kadar gula darah, tetapi juga berisiko meningkatkan berat badan setelah puasa jika kebiasaan makan berlebihan terus dilakukan. Oleh sebab itu, Nikmahtul mengimbau masyarakat agar tidak “balas dendam” saat berbuka, melainkan mengatur pola makan secara bertahap dan seimbang demi menjaga metabolisme tubuh selama Ramadan. (UF)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....