Alami Ghosting dan Breadcrumbing? Berikut Cara Menyikapinya
- 17 Feb 2026 10:45 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Fenomena ghosting dan atau breadcrumbing pada hubungan era modern saat ini banyak terjadi. Menurut Psikolog dan juga Dosen Psikologi UKWMS Kampus Kota Madiun, Robik Anwar Dhani, M.Psi., Psikologi ., bahwa ghosting dalam konteks psikologi relasi, termasuk bentuk menghindari konflik.
“Jadi kalau dari sudut pandang psikologi sendiri, ghosting atau kondisi dimana tiba- tiba seseorang menghilang tanpa penjelasan, ini menjadi wujud dari bagaimana menghindari suatu konflik. Selain juga berkaitan terhadap ketidakmampuan orang tersebut untuk menghadapi situasi emosional yang tidak nyaman,” papar Robik.
Sedangkan Founder dari psikologanak.id itu juga menjelaskan terkait breadcrumbing yang hampir mirip dengan ghosting yakni menghindari suatu kejelasan atau komitmen jika konteksnya dengan pasangan. “Nah kalo Breadcrumbing itu perilaku ketika individu memberi perhatian kecil-kecil secara berkala, seperti pesan singkat, memberi emoji, menyapa tiba-tiba, atau memberi harapan, namun hubungan tersebut tidak pernah jelas akan dibawa kemana,” ungkap Dosen Psikologi itu.
Lebih lanjut, Istilah “breadcrumb” berarti remah roti yang mana cukup untuk membuat seseorang tetap bertahan, tetapi tidak cukup untuk membuat hubungan berkembang alhasil membuat relasi yang tidak konsisten dan cenderung membuat pihak lain terjebak dalam harapan. Namun jika sedang mengalaminya, apa saja yang bisa kita lakukan, agar tidak terjebak pada perasaan yang tidak nyaman, kecewa, marah, yang pastinya berpengaruh pada produktivitas kita. Selain juga akan mengganggu relasi kita kedepannya terhadap siapapun.
Psikolog Robik, memberikan sejumlah langkah untuk menghadapi kondisi dimana kita sedang mengalami ghosting dan atau breadcrumbing.
- Validasi terlebih dahulu perasaan yang terjadi
Diri kita ketika mengalami baik ghosting atau breadcrumbing makan akan muncul perasaan sedih, marah, kecewa, atau merasa terluka. Namun penting untuk dipahami bahwa kondisi tersebut adalah hal yang wajar. Selanjutnya tidak perlu terburu- buru bahkan memaksa diri sendiri untuk menganggap hal tersebut menjadi sesuatu yang “biasa saja” , hanya karena hubungan belum resmi. Koneksi emosional tetap nyata, meski statusnya tidak jelas.
- Berhenti mengejar penjelasan yang tidak akan pernah disampaikan
Akhir suatu hubungan atau closure tidak selalu datang dari orang lain. Kadang kala, closure harus dibangun dari pemahaman diri bahwa hubungan itu tidak sehat. Apabila seseorang memilih menghilang tanpa kabar, itu sudah merupakan bentuk jawaban.
- Jangan mudah percaya janji, analisa pola perilaku
Dalam relasi, yang paling penting bukan kata-kata, tetapi konsistensi. Jika seseorang hanya muncul saat ia mau, lalu menghilang saat kita membutuhkan kejelasan, itu sudah menjadi sinyal penting.
- Buat batas sehat atau set boundaries
Batas sehat dalam hubungan adalah ketika kita bisa membedakan mana yang menjadi porsi maupun tanggung jawab kita maupun sebaliknya. Lebih lanjut, Robik menjelaskan bahwa dalam psikologi, batas atau boundaries adalah garis psikologis yang membantu seseorang membedakan mana tanggung jawabnya dan mana yang bukan, mana yang nyaman dan mana yang tidak. Adanya boundaries maka sangat membantu setiap individu untuk menjaga privasi, mengelola energi emosional, serta dapat menjalin hubungan tanpa merasa tertekan maupun terpaksa. Dengan begitu kita bisa berkata seperti :
“Saya butuh komunikasi yang jelas.”,
“Kalau memang tidak serius, saya tidak ingin menggantung.”
Penting untuk dipahami jika batas bukan ancaman, tetapi perlindungan psikologis diri kita.
- Perkuat nilai dan harga diri dan tidak menjadikan hubungan sebagai sumber nilai diri
Ketika nilai diri hanya bergantung pada perhatian seseorang, kita mudah terjebak dalam hubungan tarik-ulur. Memperkuat harga diri membantu kita lebih berani memilih hubungan yang sehat.
- Evalausi dan Refleksi
Mungkin sebagian orang menemukan pola relasi yang sama beberapa kali maka kita sebaiknya melakukan refleksi sekaligus evaluasi diri. Selain juga menjadi kesempatan kita untuk belajar agar bisa memperbaiki pola- pola yang selama ini dijalani. yang sama dan bisa mengenal diri kita lebih baik. Kita bisa berefleksi dengan bertanya kepada diri sendiri seperti apakah kita mudah tertarik pada orang yang tidak tersedia secara emosional? Atau kita akut kehilangan sehingga bertahan terlalu lama? . Robik menekankan juga bahwa refleksi disini bukan untuk menyalahkan diri, tetapi untuk memperbaiki pola.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....