Psikolog Ungkap Perilaku Ghosting, Kenapa Sering Terjadi ?

  • 17 Feb 2026 10:44 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Fenomena ghosting sering kita jumpai beberapa tahun terakhir ini. Hal ini juga dipengaruhi dari model komunikasi sekarang ini yang serba cepat dan mudah, sehingga untuk menjalin sebuah hubungan dapat terjadi secara instan, namun juga tidak menutup kemungkinan untuk hilang dengan cepat dan begitu saja tanpa ada kejelasan.

Psikolog, Robik Anwar Dhani, M.Psi., Psikologi., membagikan sudut pandangnya mengapa ghosting banyak terjadi terlebih pada hubungan percintaan. “ Ketika kita berelasi atau berkomunikasi dengan siapapun sekarang bisa melalui chat, media sosial dan telepon, yang akhirnya membentuk hubungan yang instan kemudian seperti kebiasaan kita scrolling dan jika tidak tertarik akan langsung dilewati, nah kemudian diaplikasikan juga pada kehidupan nyata, jika tidak cocok ya langsung menghilang begitu saja atau ghosting itu tadi” ungkap Robik kepada RRI Madiun.

Sehingga adanya kemudahan atau kecepatan dalam berkomunikasi, timbul fenomena ghosting. Menurut Dosen Psikologi UKWMS Kampus Kota Madiun itu bahwa ghosting adalah perilaku ketika seseorang tiba-tiba menghilang dari komunikasi,tanpa penjelasan, tanpa pamit, tanpa penutupan yang jelas.

Lebih lanjut, Robik menjelaskan fenomena ghosting erat dengan pesan tidak dibalas, telepon tidak diangkat, akun media sosial bisa saja masih aktif, tetapi komunikasi diputus sepihak. Dalam konteks psikologi relasi, ghosting termasuk bentuk menghindari konflik dan sering berkaitan dengan ketidakmampuan individu dalam menghadapi situasi emosional yang tidak nyaman.

Selain budaya komunikasi yang instan tadi, karena adanya kemudahan dalam mengakses media sosial dan aplikasi pesan instan yang mudah untuk terkoneksi pun juga meninggalkan, penyebab lain fenomena ghosting sering terjadi karena ketidakmampuan dalam menghadapi masalah.

Robik mengatakan bahwa untuk menghadapi setiap konflik atau ketika ingin mengakhiri sebuah hubungan secara baik sangat dibutuhkan keberanian emosional. Namun, perlu diingat juga bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menerapkan komunikasi asertif bahkan bagi sebagian orang, karena menghilang terasa lebih mudah daripada berkata jujur.

Selanjutnya adalah pola asuh atau bagaimana individu tadi dibesarkan dari keluarganya, jika bondingnya baik maka akan menghadirkan pola kelekatan yang aman atau secure attachment. Namun sebaliknya jika mendapatkan pola asuh yang tidak begitu positif maka akan muncul insecure attachment yang di dalam teori psikologi dipecah kembali menjadi dua yakni ada yang avoidant attachment dan anxious attachment.

Tipe avoidant attachment sendiri adalah kondisi dimana ketika seseorang menjalin hubungan dan sudah merasa dekat,nyaman namun karena hal tersebut ia merasa terkekang. Rasa khawatir pun tidak bisa dihindari dan menyebabkan mengapa akhirnya memilih menghilang atau ghosting.

Selanjutnya untuk tipe anxious attachment yakni ada trauma atau ketakutan karena sebelumnya pernah kehilangan seseorang atau pasangan, maka ia tidak mau mengulangi perasaan yang tidak menyenangkan itu. Terlebih ketika harus berjalan menuju arah hubungan yang lebih serius, individu tersebut masih belum siap secara mental, dan akhirnya memilih menghindar tanpa kejelasan.

Banyak sebuah hubungan pada masa sekarang yang serba modern, berjalan tanpa adanya kesepakatan atau komitmen yang jelas. Hubungan menjadi abu-abu, atau kabur seperti bukan pacar, tapi lebih dari teman. Kondisi tersebut akhirnya juga memudahkan orang melakukan tarik-ulur sebuah hubungan tanpa tanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....