Tanda Toxic Relationship Sering Diabaikan

  • 25 Jan 2026 22:25 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Hubungan asmara yang terlihat romantis di permukaan tidak selalu sehat secara emosional. Di kalangan anak muda, khususnya Gen Z, banyak tanda toxic relationship yang kerap dianggap wajar dan akhirnya diabaikan. Padahal, relasi yang tidak sehat dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan kepercayaan diri.

Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa salah satu tanda toxic relationship yang paling sering diabaikan adalah rasa takut untuk menjadi diri sendiri.

“Ketika seseorang merasa harus terus mengalah, menahan pendapat, atau takut membuat pasangannya marah, itu sudah menjadi sinyal hubungan yang tidak sehat,” ujar Andi, Jumat 23 Januari 2026.

Menurut Andi, banyak anak muda salah mengartikan sikap posesif sebagai bentuk perhatian. Padahal, kontrol berlebihan, seperti membatasi pergaulan, mengatur media sosial, hingga memeriksa ponsel pasangan, merupakan ciri relasi yang toksik. “Cinta seharusnya memberi rasa aman, bukan rasa tertekan,” tambahnya.

Tanda lain yang sering luput disadari adalah gaslighting, yaitu kondisi ketika seseorang dibuat meragukan perasaan dan pikirannya sendiri. Dalam hubungan seperti ini, korban sering merasa bersalah meskipun tidak melakukan kesalahan. “Korban akhirnya merasa dirinya yang terlalu sensitif, padahal masalahnya ada pada pola komunikasi yang manipulatif,” jelas Andi.

Psikolog Andi Cahyadi juga menyoroti kebiasaan memaklumi perilaku kasar secara verbal. Candaan yang merendahkan, membandingkan dengan orang lain, hingga kata-kata yang menjatuhkan mental sering dianggap bercanda. Jika terjadi berulang dan melukai perasaan, hal tersebut termasuk bentuk kekerasan emosional.

Faktor lain yang membuat toxic relationship sulit dikenali adalah tekanan sosial. Banyak anak muda bertahan dalam hubungan tidak sehat karena takut sendirian, takut dinilai gagal, atau terjebak citra “hubungan bahagia” di media sosial. “Validasi sosial sering kali membuat seseorang mengorbankan kesehatan mentalnya,” kata Andi.

Ia menegaskan bahwa hubungan yang sehat ditandai dengan komunikasi terbuka, rasa saling menghargai, dan ruang untuk berkembang. Perbedaan pendapat adalah hal wajar, namun tidak boleh disertai ancaman, manipulasi, atau intimidasi emosional.

Menutup pernyataannya, Psikolog Andi Cahyadi mengajak anak muda untuk lebih peka terhadap perasaan sendiri. “Jika sebuah hubungan lebih sering membuat lelah, cemas, dan kehilangan diri sendiri, itu tanda untuk berhenti dan mengevaluasi. Cinta yang sehat tidak menyakitkan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....