Bangun Kelas Terbuka, PISHI Dorong Siswa Aktif Berpendapat tanpa Takut Dihakimi

  • 29 Sep 2026 11:20 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI) mendorong terciptanya ruang belajar yang terbuka agar siswa berani menyampaikan pendapat tanpa takut dihakimi. Suasana kelas yang memberikan ruang bagi siswa untuk terlibat aktif dinilai penting untuk membangun kepercayaan diri dalam proses pembelajaran.

Hal tersebut dibahas dalam program Ngobrol Bareng Komunitas (Ngobras) Pro 1 RRI Madiun belum lama ini, dengan tema “Komunikasi Lintas Budaya dalam Dunia Pendidikan”. Salah satu pembahasannya menyoroti pentingnya penerapan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dalam kegiatan belajar.

“Student-centered learning itu siswa harus aktif terlibat di dalam diskusi, aktif di dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan, kemudian kita memberikan apresiasi, kita memberikan motivasi.” “Kemudian kita juga bisa melakukan cooperative learning, jadi siswa itu kita buat dalam kelompok-kelompok kecil, jangan sampai ada satu siswa yang mendominasi,” ujar Dr. Dewi Kencanawati, M.Pd.

Menurut Dewi, pembelajaran dalam kelompok kecil dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam diskusi dan kegiatan kelas. Pendekatan tersebut juga membantu menciptakan ruang belajar yang tidak hanya didominasi oleh satu siswa melainkan bisa melibatkan seluruh siswa di dalam kelas.

“Jadi siswa itu jangan dianggap sebagai botol kosong, jangan dianggap sebagai kertas kosong, mereka itu sudah punya sesuatu. Jadi kita itu harus diwongne, kita harus menganggap mereka itu sebagai manusia yang memang punya pengalaman, punya pengetahuan,” kata Dewi.

Pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siswa menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memberikan ruang agar siswa dapat terlibat dan menyampaikan gagasannya. Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan upaya membangun suasana kelas yang membuat siswa merasa dihargai. Ketika siswa mendapatkan kesempatan untuk terlibat, proses komunikasi antara guru dan peserta didik dapat berlangsung lebih terbuka.

“Student-centered learning itu siswa harus aktif terlibat di dalam diskusi, aktif di dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan, kemudian kita memberikan apresiasi, kita memberikan motivasi.” “Kita itu harus diwongne, kita harus menganggap mereka itu sebagai manusia yang memang punya pengalaman, punya pengetahuan,” ujar Dewi.

Pembelajaran yang terbuka pada akhirnya tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada keterlibatan siswa selama proses belajar. Ruang diskusi yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk berpendapat menjadi salah satu bagian penting dalam membangun interaksi di kelas.

“Mata kuliah cross cultural understanding itu memang tidak hanya perlu dipahami, tapi juga diimplementasikan di dunia nyata.” “Namun pada saat pelaksanaannya di sana memang banyak sekali perbedaan dan itulah manfaatnya pelajaran yang kita dapatkan selama di kelas,” kata Dewi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....