Tahun Kedua PDB Mojorejo, Penguatan Branding dan Pemasaran Produk Bambu

  • 31 Agt 2025 20:31 WIB
  •  Madiun

KBRN, Ponorogo: Program Pengembangan Desa Binaan (PDB) di Desa Mojorejo memasuki tahun keduanya dengan fokus utama pada peningkatan nilai tambah produk bambu. Setelah tahun pertama berhasil memperkuat kapasitas produksi para pengrajin, tahun ini program menitikberatkan pada pengembangan strategi branding, diversifikasi desain produk, serta optimalisasi pemasaran digital. Langkah ini diharapkan mampu membawa produk bambu Mojorejo ke tingkat yang lebih kompetitif, tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga di tingkat regional dan bahkan global.

Dalam pembukaan kegiatan Sosialisasi Program Pengembangan Kampung Bamboe yang berlangsung di Balai Komunitas Mojorejo, Ketua Tim Pengabdian dari Universitas Darussalam Gontor, Prof. Dr. Mohammad Muslih, MA, menjelaskan bahwa program tahun ini difokuskan pada pendekatan value building. Menurutnya, peningkatan kapasitas saja tidak cukup tanpa diimbangi oleh kemampuan untuk mengenalkan produk ke pasar luas secara efektif.

“Kalau tahun pertama fokus kita adalah capacity building, maka tahun ini kita ingin agar produk bambu Mojorejo tidak hanya bagus dibuat, tapi juga kuat dipasarkan, memiliki merek, dan mudah dikenal di pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Sosialisasi ini juga menjadi wadah untuk memperkenalkan secara menyeluruh rencana kerja program sepanjang tahun 2025, yang melibatkan pendampingan intensif dalam pembentukan brand lokal, pelatihan pemasaran digital dan e-commerce, peningkatan budaya kerja melalui pendekatan 5R, penyuluhan keselamatan kerja dan penggunaan alat pelindung diri (APD), pengenalan teknologi tepat guna lanjutan, hingga pelatihan komunikasi bisnis yang dirancang untuk menghadapi pasar internasional. Seluruh kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat posisi para pengrajin Mojorejo agar lebih siap bersaing dalam ekosistem ekonomi kreatif yang kian menantang.

Kegiatan ini turut melibatkan mitra dari Komunitas Roemah Bamboe, Deling Studio, perwakilan dari DPPM Kemdiksaintek, serta perangkat desa. Kehadiran berbagai pihak ini mencerminkan kolaborasi yang kuat antara unsur akademik, praktisi, dan pemerintahan dalam mendukung pengembangan potensi desa.

Para pengrajin menyambut baik arah baru program ini. Sutrisno, salah satu pengrajin dari Komunitas Roemah Bamboe, menyampaikan bahwa perubahan yang dirasakan selama tahun pertama sangat nyata, terutama dalam hal kualitas produksi dan pemanfaatan alat bantu modern. Namun, ia juga menyoroti tantangan yang masih harus dihadapi dalam memperluas pasar.

“Tahun lalu kami belajar banyak soal bagaimana membuat produk bambu yang lebih berkualitas. Tapi kami sadar, kualitas saja tidak cukup kalau orang belum tahu siapa kami dan apa keunikan produk kami. Karena itu, kami sangat antusias saat tahu tahun ini programnya fokus pada branding dan pemasaran. Ini yang paling kami butuhkan sekarang,” ungkapnya.

Dalam sesi dialog interaktif yang berlangsung usai pemaparan program, para pengrajin diberi kesempatan menyampaikan harapan, tantangan, serta ide-ide mereka terkait pengembangan usaha. Isu seperti kesulitan menembus pasar menengah ke atas, perlunya desain kemasan yang lebih menarik, dan pentingnya pendampingan berkelanjutan dalam promosi digital menjadi perhatian utama. Seluruh masukan tersebut dicatat oleh tim pengabdian untuk disesuaikan dengan pendekatan pelaksanaan program ke depan.

Kegiatan ditutup dengan pernyataan komitmen bersama antara tim pengabdian, para pengrajin, dan pemerintah desa untuk mendukung kelangsungan program secara berkelanjutan. Kepala Desa Mojorejo menyampaikan apresiasinya terhadap kemitraan yang telah berjalan dan berharap program ini dapat menjadi model pengembangan ekonomi kreatif desa yang berkelanjutan.

“Program ini tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga harapan baru bagi warga Mojorejo untuk naik kelas dalam ekonomi kreatif. Kami berkomitmen mendukung penuh setiap kegiatan yang dijalankan,” tuturnya.

Dengan dimulainya fase baru Program Roemah Bamboe ini, Mojorejo menatap tahun kedua program PDB dengan optimisme tinggi. Melalui strategi yang lebih terfokus pada penguatan identitas produk, inovasi desain, dan perluasan pasar, Mojorejo menyiapkan diri untuk tampil sebagai desa kreatif berbasis bambu yang berdaya saing tinggi di era ekonomi digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....