Mahasiswa PNM Mengajar, Buktikan Lulusan Punya Kompetensi Alternatif
- 12 Agt 2025 15:25 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : Kebutuhan pengajar di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di wilayah Madiun Raya mencakup Madiun, Magetan hingga Ponorogo ternyata masih sangat tinggi. Hal ini diungkapkan oleh Tri Septianto, dosen D3 Teknologi Informasi Politeknik Negeri Madiun (PNM) yang kerap menerima permintaan mengisi materi TIK di sejumlah sekolah.
“Saya sering mendapat tawaran untuk mengisi materi di sekolah sekolah di wilayah Madiun Raya. Sebagai dosen, ini bagian dari pengabdian masyarakat, salah satu tridharma perguruan tinggi,” ujar Tri, Selasa(12/8/2025).
Kebutuhan tersebut semakin meningkat seiring diterapkannya kurikulum Coding dan Kecerdasan Artifisial oleh pemerintah untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA. Namun banyak sekolah belum memiliki tenaga pengajar yang memadai di bidang tersebut.
Melihat peluang ini, Tri menginisiasi program Mahasiswa Mengajar secara mandiri dan swadaya selama 16 minggu per semester yang melibatkan mahasiswa semester lima dari program studi D3 Teknologi Informasi dan D4 Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak Politeknik Negeri Madiun. Tahun lalu program dilaksanakan di SMPN 1 Maospati dan tahun ini dilanjutkan di MTsN 1 Magetan.

“Saya mencoba resep lain. Kalau Unesa punya Labschool, saya anggap ini seperti Lab Edutech Mini yang langsung berada di sekolah. Saya memilih kontribusi di dunia pendidikan, meskipun secara kemampuan teknis saya cukup mumpuni,” kata Tri yang sejak 2016 telah menjadi asesor kompetensi BNSP dan kini memiliki 12 sertifikasi kompetensi di berbagai bidang teknologi informasi.
Sebagai pendamping, Tri membantu penyusunan kurikulum, penjadwalan, serta pembinaan pedagogik bagi mahasiswa. Ia menekankan bahwa program ini tidak hanya membantu sekolah tetapi juga menjadi wadah pengembangan kompetensi mahasiswa khususnya dalam public speaking dan keterampilan mengajar.
“Tahun lalu sekitar 20 mahasiswa terlibat. Kami usahakan agar kegiatan ini tidak mengganggu jadwal kuliah mereka,” tambahnya.
Program ini juga menjadi bentuk eksistensi Politeknik Negeri Madiun di tengah persaingan dengan perguruan tinggi lain seperti Universitas Negeri Surabaya di Magetan dan Politeknik Negeri Jember di Ngawi yang juga membuka program studi di bidang TIK.
“Siapa tahu dari sini muncul penerus yang punya idealisme sama di dunia pendidikan,” harap Tri menutup wawancara.

Pelaksanaan Mahasiswa Mengajar di SMPN 1 Maospati Magetan (Foto : tim PNM)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....