Robotik Hobi Mahalkah?
- 15 Mei 2025 10:41 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun: Dunia robotik kerap dipandang sebagai hobi mahal yang memerlukan modal besar. Namun bagi Muhammad Althaf Sultan, siswa SMAN 2 Madiun yang baru saja menjuarai lomba mobile robotik LKS Dikmen Kota Madiun, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, biaya pembuatan robot bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis proyek yang dikerjakan.
“Cost-nya bisa disesuaikan. Misal mau bikin yang under 300 ribuan untuk yang sederhananya. Tapi kalau untuk robotnya bisa sekitar 500 ribuan. Itu kalau kita mau memanfaatkan dananya properly,” ujar Althaf.
Menurutnya, komponen paling mahal dalam sebuah robot adalah CPU atau otak robot, yang mengatur semua fungsi dan sensor. Namun dengan perencanaan dan pengelolaan anggaran yang tepat, pembuatan robot tetap bisa dilakukan secara efisien dan fungsional.
Proses pembuatan robot sendiri melalui beberapa tahapan penting. Dimulai dari desain atau perancangan. Di tahap ini, pembuat harus memahami tantangan yang akan dihadapi oleh robot, serta merancang bahan dan komponen yang dibutuhkan. Setelah itu, masuk ke tahap perakitan, di mana desain diterjemahkan menjadi bentuk fisik. Tahapan terakhir adalah pemrograman, meski proses ini bisa dilakukan secara paralel.
“Pemrograman itu terakhir. Tapi sebenarnya bisa dirancang atau diprogram sambil kita ngerakit,” jelas Althaf.
Meski menjadi bagian akhir, pemrograman justru menjadi tahap paling menantang. Banyak kendala muncul ketika kode yang sudah disiapkan ternyata tidak berfungsi seperti yang diharapkan. Hal ini membutuhkan trial dan error berulang, serta ketelatenan tinggi.
“Lamanya di trial error ya sih. Perlu banyak trial error,” tambahnya sambil tersenyum.
Dibalik banyaknya trial error, keberhasilan membuat robot merupakan pencapaian yang paling menyenangkan bagi pembuatnya. Menurut Althaf, robot sangat bisa dimanfaatkan untuk meringankan kita mengerjakan beberapa tugas.
"Berhasil itu kan kita ada sebuah achievement dari project yang kita kerjakan. Dan yang pasti robot itu akan membantu kita dalam keseharian. Tapi intinya kita harus lebih pintar dari pada robot. Jangan sampai robot itu menggantikan peran manusia sehingga pekerjaan kita digantikan semua oleh robot"
Menariknya, Althaf belum genap setahun berkecimpung di dunia robotik. Ketertarikannya justru bermula dari pemrograman dan software, sebelum akhirnya tertarik mengintegrasikannya dengan perangkat keras. Ia mempelajari semuanya secara otodidak.
“Sebenarnya gak langsung ke ranah robotiknya. Tapi lebih ke softwarenya. Aku lebih suka ke programming-nya dulu. Kemudian baru-baru ini mencoba mengintegrasikan software dengan hardware atau robotnya. Jadi memang udah tertarik di IT-nya dulu,” jelasnya.
Bagi Althaf, robotik bukan hanya soal alat canggih, tapi juga wadah belajar, kreativitas, dan inovasi yang bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Dan ia percaya, siapa pun bisa belajar dan sukses di dunia ini, selama ada kemauan dan semangat untuk mencoba.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....