Temboro Jadi Fokus Edukasi Kesehatan Ibu Hamil, Soroti Risiko Pasca Persalinan
- 19 Mei 2026 21:13 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Magetan - Pemerintah Kabupaten Magetan memperkuat upaya pencegahan kematian ibu dan bayi dengan menggelar edukasi kesehatan bagi ibu hamil di Desa Temboro, Selasa (19/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di Indoor Baru Trangkil itu difokuskan pada peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pemantauan kesehatan sejak masa kehamilan hingga setelah melahirkan.
Pemilihan Temboro sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Wilayah tersebut tercatat memiliki jumlah ibu hamil cukup tinggi, sekaligus menunjukkan peningkatan kasus kehamilan berisiko dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi itu mendorong pemerintah daerah menjadikan desa tersebut sebagai salah satu titik prioritas sosialisasi kesehatan maternal.
Kepala Dinas Kesehatan Magetan, Rokhmat Hidayat, mengatakan wilayah Temboro dipilih karena memiliki jumlah ibu hamil yang cukup tinggi, sekaligus menunjukkan tren peningkatan kehamilan berisiko dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, edukasi langsung dinilai perlu untuk mencegah komplikasi yang dapat membahayakan ibu maupun bayi.
Menurut Rokhmat, komplikasi yang paling sering ditemui di Magetan adalah hipertensi selama kehamilan dan pendarahan setelah melahirkan. Kedua kondisi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi menyebabkan kematian ibu apabila tidak segera ditangani.
“Hipertensi pada ibu hamil cukup banyak kami temui dan dapat memicu komplikasi seperti kejang. Selain itu pendarahan pascapersalinan juga menjadi ancaman serius, sehingga kesiapan harus dimulai sejak sebelum hamil, selama hamil, sampai proses melahirkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, mayoritas kasus kematian ibu di Magetan justru terjadi pada masa nifas, bukan saat persalinan. Berdasarkan data 2025, tercatat sembilan kasus kematian ibu, dan lebih dari separuh terjadi hingga 42 hari setelah melahirkan.
“Banyak keluarga belum memahami tanda bahaya saat masa nifas. Padahal hampir lebih dari 50 persen kasus kematian ibu tahun lalu terjadi setelah persalinan,” jelas Rokhmat.
Untuk menekan angka tersebut, Dinkes juga mendorong keterlibatan keluarga melalui gerakan SIJAMIL. Program ini mengajak suami, keluarga inti, dan masyarakat sekitar untuk ikut mengawasi kondisi ibu hamil agar risiko kesehatan dapat dideteksi lebih dini.
Sementara itu, Bupati Magetan, Nanik Sumantri, menegaskan pemeriksaan kehamilan secara rutin harus menjadi perhatian seluruh ibu hamil. Ia mengingatkan layanan kesehatan di desa sudah tersedia dan perlu dimanfaatkan secara maksimal.
“Selama hamil minimal enam kali pemeriksaan dan dua kali USG. Pemeriksaan bisa dilakukan di posyandu, pustu, maupun sarana kesehatan lain yang tersedia di lingkungan masing-masing,” kata Nanik.
Hingga Mei 2026, pemerintah daerah mencatat belum ada kasus kematian ibu di Magetan. Kondisi tersebut diharapkan dapat dipertahankan hingga akhir tahun melalui penguatan edukasi, pendampingan keluarga, dan deteksi dini risiko kehamilan di tingkat desa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....