Tantangan Kenalkan Bahasa Jawa pada Anak di Era Gempuran Media Sosial

  • 30 Sep 2026 18:21 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Perkembangan media sosial membuat lingkungan interaksi anak semakin luas dan beragam. Kondisi tersebut turut menjadi tantangan dalam mempertahankan penggunaan bahasa Jawa, karena kebiasaan berkomunikasi anak tidak lagi hanya terbentuk dari lingkungan keluarga dan sekolah.

Ismiati, anggota Komunitas Dwija Madiun mengatakan, pola interaksi anak saat ini banyak dipengaruhi oleh penggunaan gadget dan pergaulan dengan teman sebaya. Perubahan tersebut membuat hal-hal yang ditonton dan lingkungan pertemanan ikut menjadi bagian dari proses anak dalam membentuk kebiasaan sehari-hari.

“Anak sekarang itu banyak dengan gadget, banyak dengan teman-temannya daripada dengan orang tuanya,” ujar Ismiati saat dialog bersama RRI Madiun, kemarin.

Menurut Ismiati, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena lingkungan yang menjadi panutan anak telah mengalami perubahan. Kebiasaan berbahasa yang diterima anak dari berbagai sumber dapat memengaruhi keberlangsungan penggunaan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

“Yang menjadi lanjaran anak sekarang bukan orang tua saja, tetapi apa yang dia tonton dan siapa temannya,” katanya.

Dian Widyawati dari Komunitas Dwija Madiun menilai pengaruh media sosial perlu disikapi dengan membangun lingkungan yang tetap mendukung penggunaan bahasa Jawa. Menurutnya, keluarga dapat menjadi salah satu ruang yang menjaga agar anak tetap memiliki kesempatan menggunakan bahasa Jawa meskipun lingkungan di luar rumah semakin beragam.

“Kalau bahasa Jawa itu sering digunakan, insyaallah akan lestari dan digunakan. Itu dimulai dari keluarga,” tutur Dian.

Dian menjelaskan, kondisi saat ini membuat pelestarian bahasa Jawa tidak cukup hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah. Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan, sementara penggunaan bahasa Jawa membutuhkan pembiasaan di lingkungan lain agar anak tetap familiar dengan bahasa daerah tersebut.

“Kalau bahasa Indonesia pasti bisa, karena di sekolah bahasa pengantarnya adalah bahasa Indonesia. Tetapi kalau bahasa Jawa itu perlu dibiasakan,” ujarnya.

Komunitas Dwija Madiun melihat perkembangan media sosial bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga dapat menjadi ruang baru untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Jawa. Karena itu, diperlukan keterlibatan keluarga, lingkungan pendidikan, komunitas, serta para pembuat konten agar bahasa Jawa tetap memiliki ruang di tengah perubahan pola komunikasi generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....