Geguritan Jadi Media Kenalkan Trapsila ke Generasi Muda!

  • 30 Sep 2026 16:05 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Geguritan dinilai dapat menjadi salah satu media untuk mengenalkan nilai trapsila kepada generasi muda. Melalui karya sastra Jawa, pesan mengenai sikap, perilaku, tata krama, dan unggah-ungguh dapat disampaikan dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Dian Widyawati dan Ismiati dari Komunitas Dwija Madiun dalam program Ngobrol Bareng Komunitas (NGOBRAS) Pro 1 RRI Madiun belum lama ini. Dalam dialog bertema “Trapsila Ing Gurit Wong Jawa”, keduanya membahas sejumlah geguritan yang memiliki pesan mengenai nilai dan perilaku masyarakat Jawa.

Dian Widyawati menjelaskan, salah satu geguritan yang dibahas dalam program tersebut berisi pesan kepada anak perempuan agar menjaga ucapan, sikap, penampilan, dan perilaku. Menurutnya, pesan tentang trapsila tidak selalu harus disampaikan dengan bahasa yang halus, tetapi dapat menggunakan bahasa yang lugas agar lebih mudah dipahami.

“Trapsila tidak harus disampaikan dengan bahasa yang halus, tapi trapsila juga bisa disampaikan dengan menggunakan bahasa lugas namun bisa masuk ke anak,” ujar Dian saat berdialog bersama RRI Pro 1 Madiun.

Menurut Dian, penggunaan bahasa yang lugas dalam geguritan justru dapat membuat pesan yang disampaikan lebih mudah diterima oleh anak. Meskipun terdengar menohok, pemilihan kata tersebut tetap memiliki tujuan untuk memberikan gambaran mengenai perilaku yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ismiati menambahkan, memahami geguritan tidak cukup hanya dengan membaca setiap kata yang tertulis di dalamnya. Pembaca juga perlu memahami keseluruhan makna karya agar pesan yang ingin disampaikan penulis dapat diterima dengan tepat.

“Ketika memaknai sebuah puisi itu sangat dalam sekali artinya, tapi ketika dibaca kemudian membacanya itu tidak pas, akhirnya artinya berbeda,” kata Ismiati.

Selain memahami isi, cara membawakan geguritan juga menjadi bagian penting dalam menyampaikan pesan kepada pendengar. Ismiati menjelaskan, pelafalan, penekanan, serta pemahaman terhadap makna dapat memengaruhi bagaimana sebuah geguritan diterima oleh orang lain.

“Ketika dia sudah paham apa kata-kata di dalam geguritan ini, terus maknanya apa, maka wicara, wirama, wiraga, dan wirasanya itu dapat,” tuturnya.

Komunitas Dwija Madiun menilai pengenalan trapsila melalui geguritan sekaligus menjadi bagian dari upaya melestarikan bahasa dan sastra Jawa. Melalui karya sastra yang dibaca dan dipahami secara utuh, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal bahasa Jawa, tetapi juga memahami nilai budaya dan tata krama yang terkandung di dalamnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....