Urban Farming Tak Harus Hidroponik, Media Tanah Dinilai Lebih Hemat dan Mudah

  • 30 Jun 2026 12:16 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Urban farming atau bercocok tanam di kawasan perkotaan tidak harus selalu menggunakan sistem hidroponik. Bagi masyarakat yang memiliki lahan terbatas dan ingin mulai menanam di rumah, penggunaan media tanah dinilai lebih ekonomis, mudah dirawat, dan cocok diterapkan dalam skala rumah tangga.

Hal tersebut disampaikan Dosen Universitas PGRI Madiun sekaligus pegiat urban farming, Slamet Riyanto, ST., M.M., dalam program Green Radio Pro 1 RRI Madiun berjudul Urban Farming: Solusi Hijau untuk Lahan Terbatas.

Menurut Slamet, saat ini terdapat berbagai pilihan media tanam yang dapat dimanfaatkan masyarakat, mulai dari hidroponik hingga media tanah menggunakan pot atau polybag. Namun, bagi pemula maupun keluarga yang ingin berkebun di rumah, media tanah dinilai lebih sederhana dalam proses perawatan.

Ia menjelaskan, sistem hidroponik memang mampu menghasilkan tanaman yang baik, tetapi membutuhkan perhatian lebih. Selain harus menyediakan nutrisi khusus, pemilik tanaman juga harus rutin mengecek kadar nutrisi dan kondisi air agar tanaman dapat tumbuh optimal.

"Kalau untuk skala rumah tangga, hidroponik membutuhkan biaya yang lebih besar karena harus membeli nutrisi dan perawatannya juga cukup intensif. Kalau kurang telaten, tanaman bisa gagal tumbuh," ujarnya.

Sebagai alternatif, Slamet menyarankan masyarakat memanfaatkan media tanah yang dicampur dengan pupuk bokashi atau pupuk kandang. Selain mudah diperoleh di toko pertanian, harganya juga relatif terjangkau sehingga lebih ramah di kantong. Ia mencontohkan, satu sak pupuk bokashi dengan harga sekitar Rp25 ribu dapat digunakan untuk beberapa polybag berukuran sedang. Dengan media tersebut, tanaman sudah memperoleh nutrisi yang cukup sehingga kebutuhan pemupukan berikutnya tidak terlalu banyak.

Selain itu, masyarakat juga tidak harus membeli pot baru untuk memulai urban farming. Berbagai barang bekas di rumah, seperti kemasan plastik minyak goreng, dapat dimanfaatkan sebagai wadah tanam. Cara ini dinilai mampu menghemat biaya sekaligus mengurangi limbah rumah tangga.

"Kalau ada barang bekas yang masih layak dipakai, bisa dimanfaatkan menjadi tempat media tanam. Jadi tidak harus membeli polybag baru," katanya.

Slamet mengatakan, media tanah juga lebih cocok digunakan untuk menanam berbagai jenis sayuran dan tanaman pangan, seperti cabai, kangkung, bayam, sawi, maupun terong. Menurutnya, tanaman-tanaman tersebut tetap dapat tumbuh subur dengan tambahan pupuk NPK secukupnya tanpa memerlukan perawatan serumit hidroponik. Pengalamannya saat mencoba sistem hidroponik pun menjadi pelajaran bahwa metode tersebut memerlukan ketelatenan yang lebih tinggi. Ia mengaku pernah mengalami kegagalan karena kurang optimal dalam melakukan perawatan.

"Kalau menggunakan media tanah, perawatannya lebih mudah dan lebih sederhana. Saya sendiri pernah mencoba hidroponik, tetapi gagal karena memang membutuhkan perhatian yang lebih intens," ungkapnya.

Melalui edukasi kepada masyarakat, Slamet berharap urban farming dapat menjadi kebiasaan baru di lingkungan perkotaan. Dengan memilih media tanam yang sesuai kemampuan, masyarakat dapat mulai bercocok tanam dari halaman sempit, teras, maupun sudut rumah yang masih mendapat sinar matahari. Menurutnya, urban farming bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan sayuran keluarga, tetapi juga menjadi langkah sederhana dalam menciptakan lingkungan yang lebih hijau, asri, serta mengurangi pengeluaran rumah tangga.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....