Kangkung hingga Cabai, Tanaman yang Direkomendasikan untuk Urban Farming Pemula

  • 26 Jun 2026 19:42 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Masyarakat yang ingin memulai urban farming tidak perlu bingung memilih jenis tanaman. Beberapa tanaman seperti kangkung, bayam, sawi, cabai, hingga terong dinilai cocok dibudidayakan oleh pemula karena relatif mudah dirawat dan dapat tumbuh di lahan terbatas.

Hal tersebut disampaikan Dosen Universitas PGRI Madiun sekaligus pegiat urban farming, Slamet Riyanto, ST., M.M., dalam program Green Radio Pro 1 RRI Madiun. Menurutnya, memilih tanaman yang sesuai menjadi langkah awal agar masyarakat tidak mudah menyerah saat mulai bercocok tanam di lingkungan rumah.

Slamet mengatakan, kangkung merupakan salah satu tanaman yang paling direkomendasikan bagi pemula. Selain mudah dibudidayakan, kangkung memiliki masa panen yang relatif singkat dan dapat ditanam menggunakan media tanah maupun air.

"Kalau untuk pemula saya anjurkan menanam kangkung. Perawatannya mudah, panennya cepat, dan hasilnya juga cukup banyak," ujarnya.

Selain kangkung, bayam dan sawi juga menjadi pilihan yang tepat karena tidak membutuhkan perawatan yang rumit. Sementara bagi masyarakat yang ingin menanam tanaman produktif dalam jangka waktu lebih lama, cabai menjadi salah satu pilihan terbaik.

Menurut Slamet, tanaman cabai memang membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga panen pertama. Namun, masa produktifnya dapat bertahan hingga enam bulan bahkan satu tahun apabila dirawat dengan baik.

"Kalau cabai, setelah tanaman mulai tua bisa dipangkas. Nanti akan muncul tunas baru dan bisa berbuah lagi sehingga tidak perlu menanam dari awal," jelasnya.

Hal serupa juga berlaku pada tanaman terong yang masih dapat menghasilkan tunas baru setelah dilakukan pemangkasan. Berbeda dengan tomat, timun, pare, maupun kacang panjang yang umumnya hanya menghasilkan panen satu hingga dua kali sebelum akhirnya mati sehingga perlu ditanam kembali dari bibit baru.

Dalam praktik urban farming, Slamet menyarankan masyarakat menggunakan media tanam berupa tanah yang dicampur pupuk organik. Cara tersebut dinilai lebih mudah diterapkan dibandingkan sistem hidroponik yang membutuhkan nutrisi khusus serta perawatan lebih intensif.

Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan barang bekas seperti polybag maupun kemasan plastik sebagai wadah tanam. Bahkan, limbah dapur seperti cangkang telur, kulit bawang, dan sisa sayuran dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk menambah nutrisi tanaman.

Menurut Slamet, keberhasilan urban farming tidak ditentukan oleh luas lahan, melainkan ketekunan dalam merawat tanaman. Penyiraman, pemupukan, dan perawatan secara rutin menjadi kunci agar tanaman dapat tumbuh optimal dan menghasilkan panen yang maksimal.

"Yang paling penting bukan lahannya, tetapi kemauan untuk merawat. Selama ada sinar matahari dan tanaman dirawat dengan baik, peluang berhasil akan lebih besar," pungkasnya.

Melalui pemilihan tanaman yang tepat, urban farming diharapkan dapat menjadi langkah awal masyarakat perkotaan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan produktif.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....