Bukan Kesepian, Ini Alasan Solo Table Theory Makin Digandrungi Sebagai Cara Me Time
- 17 Mei 2026 13:38 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Kehidupan saat ini terasa sangat dinamis, bahkan setiap hari kita menghadapi berbagai tuntutan sosial mulai dari pekerjaan, menjaga citra diri tidak hanya dalam dunia nyata tapi juga dunia maya, serta tanggung jawab setiap individu yang sering menguras energi. Me time atau meluangkan waktu untuk diri sendiri tentu bisa menjadi cara untuk memberi jeda pada diri sendiri yang seringkali terjebak dalam rutinitas yang melelahkan.
Psikolog sekaligus Dosen Psikologi UKWMS Kampus Kota Madiun, Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog., mengungkapkan salah satu cara untuk me time atau meluangkan waktu untuk diri sendiri adalah dengan solo table theory.
“Nah, kenapa saat ini banyak orang yang nyaman dan tidak apa-apa jika harus makan sendirian atau istilah yang sedang populer yakni solo table theory dan dipilih sebagai me time?,” ucap Robik.
Dalam pengamatannya, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran yang awalnya ketika makan sendiri adalah sesuatu yang menyedihkan atau sangat kesepian berubah menjadi otoritas penuh atas diri sendiri.
“Nah, kenapa demikian? Karena ada erosi stigma sosial maksudnya adalah media sosial itu biasanya membantu menormalisasi yang namanya solo table theory, terus akhirnya banyak muncul konten-konten yang kemudian meromantisasi kesendirian itu,” paparnya.
Tren Solo Table Theory kini menjadi alternatif me time yang populer karena menawarkan ruang untuk regulasi sensori. Di lingkungan yang bising dan penuh stimulasi, makan sendirian memberikan kesempatan bagi otak untuk memproses informasi tanpa gangguan interaksi sosial.
Selain itu dengan menerapkan solo table theory, individu mampu memiliki kontrol penuh bahkan seutuhnya atas diri mereka sendiri. Robik mencontohkan seperti tidak memerlukan kompromi atau bernegosiasi mengenai tempat, menu dan durasi makan yang akan kita pilih, dibandingkan saat dengan orang lain.
Selanjutnya ketenangan jiwa akan hadir pada individu yang dapat memiliki kesadaran dan kontrol penuh atas dirinya sendiri. Seperti yang disampaikan oleh seorang Tenaga Pengajar di Kota Madiun, Wahyu Laili yang sering kali memilih untuk makan sendirian untuk melepas penat dari aktivitas selama seharian dan interaksi sosial yang sering kali menguras energi.
“Makan sendiri rasanya lebih bisa membuat rileks, dan saya memilih menu atau resto yang saya inginkan tanpa perlu berdiskusi panjang, apalagi kalau kondisinya sudah capek dari rutinitas yang membuat stres dan lelah. Meskipun berinteraksi dengan teman tetap dibutuhkan, tetapi ketika kita ingin me time ya tetap lakukan saja tanpa perlu ada rasa tidak enak, karena kita yang tahu betul kondisi diri kita,” ucap Lili panggilan akrabnya.
Seseorang yang menerapkan solo table theory menurut Robik dapat memberikan waktu untuk berdialog dengan diri sendiri dan menjadikan diri lebih jujur dalam mengenali emosi dan preferensi pribadinya. Insight baru dan ide kreatif seringkali muncul justru saat kita melepaskan diri sejenak saja dari kebisingan percakapan atau interaksi dengan orang lain.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....