Manfaat Memaafkan Secara Psikologi

  • 31 Mar 2026 16:14 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Sebagai manusia, kita bisa saja menyakiti atau bahkan tersakiti, yang akhirnya apakah kita bisa mendapatkan atau memberikan kata maaf.

Meskipun proses memaafkan sangat kompleks dan bergantung pada tingkat luka maupun faktor- faktor lainnya, namun ketika kita mampu memaafkan makan akan memberikan manfaat baik terlebih untuk kesehatan psikologis.

Dalam program Teman Cerita di RRI Madiun, Psikolog, Robik Anwar Dhani, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa dalam berbagai penelitian menunjukkan dampak positif dari memaafkan.

Manfaat yang pertama yakni mampu mengurangi kecemasan, kegelisahan, dan juga stres dalam diri sendiri.

Selanjutnya dengan memaafkan secara sungguh- sungguh makan bisa membantu kita menurunkan beban emosi negatif.

“Tentu tidak bisa dipungkiri, rasa sakit hati, atau apapun luka yang didapatkan akan menghasilkan emosi- emosi negatif yang tidak baik jika terus kita simpan apalagi dalam waktu lama, maka perlu untuk merilisnya dalam tahapan atau proses memaafkan itu sendiri,” terang Robik.

Manfaat dari memaafkan berikutnya yakni bisa meningkatkan ketenangan serta kebahagiaan hidup.

Mengingat makna memaafkan dalam sudut pandang psikologi sendiri yakni ketika seseorang dapat melepaskan keinginan untuk balas dendam,dan dapat mengurangi atau menghilangkan dorongan untuk menghindari orang yang pernah menyakiti kita.

Selain itu memaafkan menjadi proses dalam diri seseorang untuk dapat dan mulai membuka kesempatan dalam memberikan tanggapan dengan cara yang lebih positif.

Cara yang positif inilah yang akhirnya melahirkan perasaan yang lebih damai dan tenang, untuk dapat melanjutkan langkah hidup tanpa bayang- bayang emosi negatif tadi.

“Terakhir, dengan melewati tahapan atau proses memaafkan, dan akhirnya seseorang mampu sepenuh hati memaafkan, maka manfaat yang didapatkan pastinya adalah membaiknya relasi atau hubungan yang terjalin. Memaafkan akan memperbaiki hubungan, namun pastinya kita juga tetap memiliki batasan yang sehat,” papar Dosen Psikologi.

Meskipun begitu, Robik juga menekankan bahwa memaafkan tidak selalu harus selesai saat itu juga, justru ketika butuh waktu kita berada dalam proses yang lebih jujur dan sehat.

“Terpenting bahwa ketika kita terluka atau disakiti, kita tetap bergerak menuju pemulihan, untuk kembali memiliki hati yang lapang tidak terbentuk dari paksaan, melainkan dari proses memahami, menerima, dan perlahan melepaskan.

Ketika memaafkan dilakukan dengan kesadaran,bukan tekanan,disitulah ia menjadi kekuatan, bukan hanya untuk orang lain, tetapi terutama untuk diri kita sendiri,” pungkas Robik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....