Ini Faktor Penyebab Sulitnya untuk Memaafkan

  • 27 Mar 2026 22:38 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Rasanya mudah mengucapkan kata maaf, namun memaafkan dengan sepenuh hati tentu menjadi sebuah tantangan dan pada kondisi tertentu terasa sulit bahkan berat. Sejatinya, memaafkan adalah ketika kita benar- benar tidak memiliki keinginan untuk membalas dendam, tidak lagi menghindari orang yang pernah menyakiti kita dan dapat memberikan respon yang positif kita.

Namun, kenapa memaafkan sering kali masih sulit untuk dilakukan ? apa saja hal yang menjadi faktor penyebabnya? Dalam program Teman Cerita di PRO 1 RRI Madiun, Dosen Psikologi UKWMS Kampus Kota Madiun, Robik Anwardani mengungkapan empat faktor yang mempengaruhi proses memaafkan itu.

“Terdapat empat faktor ya, yang sangat berpengaruh terhadap sulitnya memaafkan antara lain tingkat luka yang dialami, cara memaknai kejadian maupun luka itu, sudut pandang dan kualitas hubungan itu sendiri,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).

Terkait tingkat dari luka itu kata Robik, ketika lukanya semakin dalam bahkan membuat kita menjadi sangat terluka maka biasanya proses memaafkan itu cukup panjang atau butuh waktu yang lama akhirnya. Selanjutnya kemampuan ketika kita bisa memaknai kejadian tersebut atau tidak.

"Nah, biasanya ketika orang itu terluka maka seringkali kita mengatakan coba ambil hikmahnya. Berikutnya adalah proses bagaimana kita dapat memaknai kejadian maupun luka tersebut karena biasanya dapat membuat kita akhirnya sulit untuk bisa percaya lagi kepada orang lain,” jelas Robik.

Individu yang sulit percaya dengan orang lain, akhirnya semakin membuat proses memaafkan terasa sulit. Hal ini pun berpengaruh pada rasa empati.

Apabila empati atau kemampuan dalam melihat melalui sudut pandang dari orang yang menyakiti kita pun juga menjadikan proses memaafkan semakin berat untuk dilakukan. Belum lagi faktor kedekatan maupun status hubungan yang terjalin, ketika seseorang memiliki kedekatan hubungan dan terjadi permasalahan dimana ada salah satu bahkan keduanya sakit hati makan semakin membuat proses untuk memahami, berempati dan memaafkan semakin sukar.

Terakhir Robik menegaskan bahwa memaafkan adalah proses yang kompleks dan bertahap dari setiap individu yang bergantung pada tingkat rasa luka yang dialami. Namun, pada momen lebaran tentu mengajarkan seseorang tentang apa itu kembali baik dalam hubungan, pada nilai, dan pada hati yang lebih lapang.

"Namun hati yang lapang dalam memaafkan adalah yang tidak terbentuk dari paksaan,melainkan dari proses memahami, menerima, dan perlahan melepaskan. Ketika memaafkan dilakukan dengan kesadaran,bukan tekanan, disitulah ia menjadi kekuatan, bukan hanya untuk orang lain, tetapi terutama untuk diri kita sendiri," ungkapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....