Mengenal dan Memahami ‘Feminine Energy’.
- 24 Mar 2026 16:45 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Istilah feminine energy cukup banyak dibahas pada media sosial terlebih saat mengulas tentang ruang perempuan atau istilah ‘woman support woman’.
Sejumlah konten media sosial mendeskripsikan bahwa feminine energy merupakan suatu sosok atau karakteristik perempuan yang penuh kelembutan, keanggunan, ketenangan, serta kemampuan untuk menarik laki- laki tanpa harus mengejar.
Dilihat dari perspektif Psikologi sendiri, menurut Psikolog Robik Anwar Dhani, M.Psi, Psikolog, bahwa istilah yang valid atau variabel psikologi bernama feminine energy itu belum ada. “Jadi sependek yang saya tahu istilah ilmiah untuk feminine energy itu memang belum ada, tetapi memang ada beberapa teori yang terus akhirnya mengkaitkan dengan peran feminim itu sendiri karena kita sebagai manusia memiliki dua gender, “ ucap Robik, kepada RRI Madiun dalam program Teman Cerita.
Gender laki-laki umumnya digambarkan dengan suatu konstruksi sosial yang mana mereka adalah seorang maskulin dengan sikap yang penuh ketegasan,kepemimpinan, serta pemikiran yang sangat logis. Sedangkan gender perempuan digambarkan dalam konstruksi sosial itu harus lembut, bisa merawat dan sebagainya.
Menurut Robik, feminine energy merupakan himpunan sifat- sifat seperti empati, emosional, reseptif (menerima) bahkan kemampuan nurturing atau merawat. Melalui sifat- sifat tersebut tentu kontras dengan sifat yang ditunjukan dari sikap maskulin yang tegas atau ketika pengambilan keputusan berdasarkan logika, sedangkan feminine energy mengedepankan sisi emosionalnya.
Namun ditengah masyarakat kita terdapat kesalahpahaman bahwa feminine energy tidak sesederhana seperti yang diulas pada media sosial, bahkan bisa dikatakan konsepnya jauh lebih kompleks. “Maka pada akhirnya banyak perempuan yang merasa kelelahan karena harus berperan ganda baik dari sisi karir, rumah tangga selain juga konstruksi sosial yang menuntut untuk bersikap lebih feminine lagi,” jelas Robik.
Dalam pemaparannya, Robik menyebut jika pada sudut pandang psikologi, ada sebuah konsep teori yang paling dekat dengan konsep energi feminin ini. Konsep arketipe dari tokoh psikologi yakni Carl Jung tentang anima dan animus.
Setiap diri manusia sendiri memiliki konsep anima dan animus, yang menjadi satu kesatuan dan terintegrasi. “Anima itu menggambarkan sisi kewanitaan dari seorang individu sedangkan animus itu adalah sisi kelaki-lakian dari seorang individu gitu,” jelas Robik memaparkan konsep dari Jung ini.
Bisa juga dengan kata lain, bahwa anima adalah sisi feminimnya dari seorang individu, dan animus ini adalah sisi maskulin dari seorang individu gitu. Lebih lanjut, anima dan animus yang ada dalam setiap diri manusia, baik laki- laki maupun perempuan.
Maka, kedua sisi tersebut memang sebaiknya secara seimbang dimiliki oleh setiap individu apapun gendernya, tidak hanya didominasi dengan feminin saja atau maskulin saja. Jadi bukan berarti apalagi ketika kita sebagai seorang perempuan hanyamengedepankan dan mendominasi diri kita dengan feminine energi atau sisi- sisi seperti kelembutan, nurturing dan emsoionalnya saja, maka kita akan kehilangan integrasi terhadap sisi maskulinnya. Padahal sisi ketegasan dari seorang perempuan itu sendiri juga sangat diperlukan.
Kemampuan mengelola dengan baik dan seimbang baik energi feminim dan maskulin tentu sangat berpengaruh pada setiap peran yang dijalani. Baik itu di rumah sebagai orang tua misalnya, atau pun dalam karir sendiri terlebih jika menjadi seorang pemimpin.
Terakhir, Robik menegaskan dan mengingatkan bahwa feminine energy bisa menjadi bahasa reflektif untuk memahami diri. Namun jangan terus membiarkannya menjadi kotak baru yang membatasi.
"Feminine energy bukan hanya untuk menarik seseorang namun jauh lebih luas, untuk bisa membangun karya, karier, komunitas, dan identitas yang bermakna. "Keberdayaan bukan tentang memenuhi tren, tetapi tentang integritas diri," Pungkas Robik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....