Daripada Menonton Video, Main Game Melatih Berpikir Kritis

  • 11 Feb 2026 09:46 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Penggunaan gawai pada anak sering kali memicu perdebatan mengenai efektivitas antara menonton video atau bermain game. Akademisi Dr. W. Linda Yuhanna, M.Si. dalam dialog bersama Pro2 RRI Madiun menjelaskan bahwa kedua aktivitas tersebut memiliki karakteristik interaksi yang berbeda bagi perkembangan anak. Orang tua perlu memahami dampak dari setiap aktivitas digital agar penggunaan teknologi tetap memberikan nilai edukatif.

Bermain game dinilai lebih menantang karena menuntut anak untuk memecahkan masalah dan mengejar target level tertentu. "Memang kalau bermain game itu kan juga terasa ya otak kita, jadi mereka harus memecahkan sesuatu, harus naik level dan lain sebagainya," ungkap Dr. Linda. Aktivitas ini melibatkan proses berpikir aktif melalui penyelesaian berbagai tantangan yang muncul di dalam permainan. Namun, manfaat tersebut hanya akan optimal jika durasi bermain dibatasi secara ketat demi kesehatan mental anak.

Sebaliknya, menonton YouTube cenderung bersifat komunikasi satu arah yang lebih pasif bagi para penggunanya. Anak hanya menikmati konten tanpa adanya stimulasi untuk memecahkan tantangan secara langsung. Hal ini menyebabkan tingkat berpikir kritis anak tidak terasah setajam saat mereka berhadapan dengan sebuah permainan interaktif.

Dr. W. Linda Yuhanna, M.Si. juga berpendapat bahwa kedua aktivitas digital tersebut tetap diperbolehkan asalkan memiliki proporsi waktu yang tepat. Pengawasan orang tua menjadi kunci utama agar aktivitas menatap layar tidak mengganggu waktu belajar dan ibadah. Kedisiplinan dalam mengatur jadwal akan membentuk pola kebiasaan yang sehat bagi anak di masa depan.

"Game tidak apa-apa diberikan dengan timing yang pas, misalnya hanya setengah jam agar anak tertarget memecahkan sesuatu," tutur Dr. W. Linda. Batasan waktu adalah instrumen penting untuk mencegah ketergantungan pada perangkat digital. Dengan kontrol yang baik, teknologi akan menjadi alat bantu belajar alih-alih menjadi beban bagi pertumbuhan anak.

Fokus dan kontrol yang baik harus diterapkan agar penggunaan gadget tidak dilakukan setiap saat dan di mana saja. Orang tua disarankan untuk terus mendampingi anak dalam memilih konten yang sesuai dengan usia dan kebutuhan perkembangan mereka. Keseimbangan antara dunia digital dan aktivitas fisik tetap menjadi prioritas utama dalam pola asuh modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....