Fileski Tulis Puisi yang Terispirasi dari Musisi

  • 13 Jan 2026 23:29 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Pegiat sastra dan seniman Fileski Walidha Tanjung menulis empat puisi yang terinspirasi dari lagu Daniel Rumbekwan. Beberapa karya Daniel yang menginspirasi Fileski, antara lain, Burung Kecil, Terima Saja, Rindu, dan Veznia.

Dari karya Daniel Rumbekwan, Fileski melihat bahwa potensi dan inspirasi tidak selalu datang dari pusat-pusat kultural, melainkan dari sesama seniman dan musisi.

Berikut puisi-puisi Fileski yang terinspirasi dari karya Daniel Rumbekwan:

1. Belajar Menamai Langit

(Terinspirasi lagu: Burung Kecil)

Aku adalah burung kecil

yang menukar ranting-ranting dengan pertanyaan,

aku menggenggam angin

sebagai alamat untuk pulang.

Bukit-bukit tinggi menyimpan rahasia

tentang manusia yang rakus menebang pohon-pohonku

tapi mereka lupa menanam makna dalam hidupnya.

Pepohonan bicara lirih padaku:

“Aku bersuara tak bermakna membuat kegaduhan,

aku hanya ingin bertahan.”

Gedung-gedung menatapku dengan mata pisau,

mereka tinggi, memamerkan kesombongan

tapi takut pada kicauanku

Aku membangun sarang dari sisa-sisa harapan,

di antara debu dan doa-doa,

sebab kebebasan bukanlah hadiah

kebebasan adalah keberanian untuk tetap bersuara

kebebasan adalah keberanian untuk terus berkicau

meski langit ingin dibungkam.

2. Apa Kata Waktu

(Terinspirasi lagu: Terima Saja)

Waktu terduduk di hadapan kita

tanpa jam, tanpa jeda, tanpa perbandingan,

ia hanya berkata:

“Apakah hidup harus menyerupai orang lain?”

Oh kita terjatuh bukan karena nasib,

melainkan karena kita pecahkan cermin sendiri

yang terlalu sering kita pakai untuk mengukur

mengukur seberapa banyak bahagia.

Rasa angkuh itu adalah kelelahan

ia menyamar sebagai ambisi,

lalu terjatuh pada jeda

yang tak mau kita akui.

Ambillah bagian dari hidup,

relakan yang bukan untuk kita—

sebab tak semua yang berkilau

ditakdirkan untuk kita genggam.

ya terima saja:

naik dan turun adalah tarikan nafas kehidupan,

dan hidup bukan untuk menang di atas siapa pun,

namun untuk berdamai dengan diri sendiri.

3. Cara Hujan Mengucap Namamu

(Terinspirasi lagu: Rindu)

Aku memanggilmu

seperti tanah memanggil hujan:

yang diam-diam,

seluruh tubuhku bergetar.

Rindu ini bukan api,

rasakan dalam dan tenang,

seperti sebuah sumur

yang menyimpan wajahmu di dasarnya.

Hujan sore ini turun tanpa alasan,

seperti rinduku

yang tak butuh penjelasan.

Aku merawat rindu

seperti merawat luka-luka:

dan aku tak ingin sembuh cepat,

namun aku juga tak ingin membusuk

sebelum bertemu.

Tunggulah aku,

menuju pulang lewat setapak kenangan,

karena hatimu

adalah satu-satunya rumah

yang tak pernah mengusirku.

4. Veznia: Kota yang Mengajarkanku Berdoa

(Terinspirasi lagu: Veznia)

Hai Veznia, kau sedang mencari dirimu

di persimpangan lampu merah,

di antara pilihan yang terus berubah

dan amarah mulai lelah.

Dunia ini pandai berdusta:

ia menawarkan cahaya

namun mematikan bintang-bintang di dada.

Pergaulan malam

adalah suara riuh yang menutup nuranimu,

sementara sunyi—

sering kali—adalah sahabat terbaikmu.

Kini kau tertinggal, dan kau sendirian,

seperti orang yang pura-pura kuat

menarik sudut senyumnya di depan layar.

Lipatlah tanganmu,

rebahkan egomu,

biarkan harapan bernafas sekali lagi.

Dan ketika kau buka pintu itu,

kau temukan nasihat

yang tumbuh pelan-pelan dalam jiwa:

Veznia hidup ini memang berat,

tapi hidup akan tetap indah Veznia

bagi mereka yang terus mengayuh doa-doa.

Madiun, di Januari 2026

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....