Olahraga Lari: Antara Hobi, Gairah, Pelarian atau FOMO

  • 16 Jun 2025 12:18 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun: Di balik setiap langkah kaki yang menyentuh aspal, ada beragam alasan dan cerita yang menyatukan ratusan anggota komunitas Madiun Runners. Mulai dari yang menjadikan lari sebagai hobi, yang terbakar semangat oleh gairah hidup sehat, yang melarikan diri dari kepenatan hidup sehari-hari, hingga mereka yang hanya ingin "ikut-ikutan" tren atau Fear of Missing Out (FOMO),semuanya bersatu dalam satu irama napas dan semangat.

Komunitas Madiun Runners, yang telah berdiri sejak 2015 bukan hanya menjadi wadah bagi para pecinta olahraga lari di kota Madiun, tetapi juga menjadi ruang sosial yang inklusif dan inspiratif bagi siapa saja. Setiap pekan, komunitas ini rutin mengadakan sesi lari bersama dari Fun Run 5K Tak hanya sekadar olahraga, kegiatan ini juga menjadi ajang berbagi cerita dan motivasi. Ditemui saat menjadi narasumber program Ngobras Pro1 RRI Madiun, Kapten Madiun Runners, Ahmad Salim menceritakan antusias pelari yang saat ini semakin banyak. "Komunitas ini bermula dari kumpulan kecil 20 an orang. “Awalnya hanya hobi biasa. Tapi lama-lama kami sadar, ini lebih dari itu. Ada gairah hidup sehat yang tumbuh dari kebersamaan,” ujarnya beberapa waktu lalu. Salim menambahkan, banyak anggota yang awalnya hanya ingin mengisi waktu luang, kini malah bertransformasi menjadi pelari serius yang rutin mengikuti berbagai event lari nasional bahkan event lari trail di luar Jawa.

Menariknya, tidak sedikit anggota Madiun Runners yang mengaku menemukan pelarian yang positif melalui kegiatan lari. Salah satunya adalah Agrisda. “Lari jadi semacam meditasi berjalan buat saya. Setiap kali kaki melangkah, saya merasa beban pikiran ikut berkurang. Di komunitas ini juga saya menemukan support system yang luar biasa,” katanya. Tak bisa dipungkiri, budaya FOMO juga memainkan peran dalam semakin populernya olahraga lari. Media sosial penuh dengan unggahan seputar race medal, pemandangan sunrise saat morning run, atau statistik kilometer dari aplikasi Strava. Bagi Agrisda seorang anggota baru, FOMO justru menjadi pintu masuk yang positif. “Awalnya sih ikut-ikutan. Teman semua lari, posting pace di Instagram. Tapi ternyata lama-lama keterusan dan sekarang orang-orang malah ketagihan,” ungkapnya sambil tertawa.

Di sisi lain, Sirojuddin yang telah sering mengikuti race lari hingga 30Km menyampaikan pada masyarakat yang masih pemula dalam olahraga lari harus berhati-hati. “Lari itu memang sederhana, tapi bisa punya dampak yang luar biasa, baik untuk tubuh, pikiran, maupun komunitas. Sebelum lari yang tentu perhatikan banyak hal ya, pemanasan selama 5–10 menit untuk meningkatkan sirkulasi darah dan mengurangi risiko cedera.Bisa dengan jalan cepat, jogging ringan, atau peregangan dinamis,” ujar Sirojuddin. Selain itu, Sirojuddin menuturkan agar pelari pemula tidak langsung langsung lari jauh atau cepat. Mulailah dengan jalan cepat, lalu jogging perlahan. Gunakan prinsip “run-walk”: kombinasi lari dan jalan untuk adaptasi tubuh. Ia berharap ke depan komunitas ini bisa menjangkau lebih banyak masyarakat dari berbagai latar belakang. Kegiatan Madiun Runners tidak hanya berfokus pada lari. Komunitas ini juga aktif mengadakan kegiatan sosial seperti berkolaborasi program donor darah, dan sebagainya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....