Nada Berubah Makna: Lagu Populer dan Kesantunan Berbahasa

  • 26 Mei 2025 22:39 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Lagu-lagu populer remaja kian mendominasi ruang dengar publik, mulai dari platform digital hingga media sosial. Di balik irama yang catchy dan lirik yang mudah diingat, terdapat fenomena yang menyita perhatian akademisi, khususnya dalam ranah kebahasaan dan etika komunikasi. Menanggapi hal tersebut, Wenny Wijayanti, M.Pd, Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Madiun, menyoroti pentingnya kesantunan berbahasa dalam lagu-lagu yang dikonsumsi oleh generasi muda.

Wenny mengungkapkan bahwa perkembangan musik populer, terutama yang digandrungi remaja, telah mengalami pergeseran bukan hanya dari sisi musikalitas, tetapi juga dari kandungan bahasa yang digunakan. Menurutnya, banyak lagu masa kini yang secara tidak langsung memengaruhi pola tutur remaja dalam kehidupan sehari-hari. “Bahasa dalam lirik lagu sering kali menjadi panutan atau bahkan identitas baru bagi remaja. Sayangnya, tidak sedikit lagu yang memuat unsur bahasa yang kurang santun, baik dalam pemilihan diksi maupun makna tersirat yang ditimbulkannya,” jelas Wenny, Senin (26/5/2025).

Wenny menambahkan bahwa fenomena ini perlu menjadi perhatian bersama antara pendidik, orang tua, dan pelaku industri musik. Ia menilai bahwa kesantunan berbahasa bukan sekadar norma linguistik, tetapi juga mencerminkan karakter dan budaya masyarakat. Di era digital saat ini, di mana informasi tersebar dengan cepat, lirik lagu bisa menjadi alat yang sangat efektif dalam membentuk kebiasaan tutur, baik positif maupun negatif.

Lebih lanjut, Wenny mengajak para guru dan dosen bahasa untuk lebih aktif mengajak siswa dan mahasiswa mendiskusikan isi dan nilai-nilai dalam lirik lagu. Lagu bisa dijadikan media pembelajaran yang kritis dan kontekstual. “Tidak semua lagu populer buruk, tetapi kita perlu melatih siswa untuk lebih kritis dalam mengonsumsi media. Lagu bisa menjadi jembatan edukatif jika dikaji dengan pendekatan yang tepat,” tambahnya.

Budaya populer, termasuk lagu, bukanlah entitas netral. Nada dan lirik memiliki kekuatan membentuk perspektif. Ketika nada berubah, makna pun ikut bergeser. Di sinilah peran pendidikan bahasa menjadi sangat krusial, tidak hanya untuk mengajarkan kaidah, tetapi juga membangun kesadaran etis dalam berbahasa. Wenny juga menyoroti peran produser dan penyanyi dalam menciptakan karya yang tidak hanya laris di pasaran, tetapi juga membawa pesan positif dan membangun. Ia berharap ada sinergi antara kreativitas dan tanggung jawab sosial dalam industri musik. Wenny berharap bahwa melalui pendekatan linguistik yang humanis dan edukatif, lagu-lagu populer tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pembentukan karakter generasi muda yang santun dan berbudaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....