Belajar dari Cartenz: Penting Memahami Hipotermia dan Pencegahannya

  • 06 Mar 2025 21:34 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun: Mendaki gunung masih menjadi kegiatan outdoor yang digemari banyak orang. Tak heran, animo masyarakat juga semakin bertambah di saat musim mendaki tiba. Namun, beberapa waktu lalu dunia pendakian dikejutkan dengan berpulangnya dua pendaki senior, yaitu Lilie Wiyati Poegiono dan Elsa Laksono. Mereka berdua berpulang pada Sabtu, (1/3/2025) malam karena hipotermia.

Hipotermia adalah suatu kondisi di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhudingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai suhu bagian dalam tubuh di bawah 35 °C. Tubuh manusia mampu mengatur suhu pada zona termonetral, yaitu antara 36,5–37,5 °C. Di luar suhu tersebut, respons tubuh untuk mengatur suhu akan aktif menyeimbangkan produksipanas dan kehilangan panas dalam tubuh.

Dengan bertambahnya kasus hipotermia dalam dunia pendakian, Farid, Bunda Elvy, dan Mas Ali berbagi edukasi pada program NGOBRAS (Ngobrol Bareng Komunitas)Pro1 RRI Madiun. Sebagai seorang pendaki yang telah dijalani dari tahun 1990-an, bunda Elvy mengatakan mendaki gunung tentu harus mempersiapkan segala sesuatunya sebelum mendaki. "Kita tentu harus prepare segala macamnya ya sebelum mendaki. Kemudian jenis gunung yang didaki, dan tentu keperluan lain yang mendukung untuk keselamatan mendaki," katanya, Kamis (6/3/2025).

Sementara itu, Mas Ali menuturkan mengenai faktor usia apakah berpengaruh dalam sebuah pendakian. "Sebenarnya di usia berapapun, selama ada safety nya itu silahkan saja tidak apa-apa, selama ada Tim, Guide, komplit silahkan saja. Kemudian, anak-anak itu sebetulnya harus ada tahapannya, tidak boleh langsung naik begitu saja, ada proses tahapan yang harus dilakukan," tutunya.

Farid, sebagai pendaki muda juga menambahkan edukasi mengenai pendakian gunung yang marak dilakukan anak-anak muda tanpa persiapan yang matang, sehingga tidak jarang ada kejadian yang tidak diinginkan seperti hilang, tersesat, hingga hipotermia. "Mendaki itu selain harus melihat dan mempelajari medannya, kita kan juga akan dihadapkan dengan cuaca yang sampai kapanpun tidak akan bisa diprediksi, ada kejutan-kejutan yang bisa saja terjadi, misalnya badai, hujan dan sebagainya," tambahnya

Mas Ali dan rekan-rekan pendaki berpesan pada para pendaki jika mendaki dirasa lelah, usahakan makan dulu. Konsumsi makanan seperti kacang-kacangan, cokelat, itu akan menambahkan kalori yang baik untuk memproduksi tenaga saat melanjutkan pendakian. Sedangkan untuk menangani masalah hipotermia yang lazimnya terjadi diatas 2000mdpl. Gejala Hipotermia ditandai dengan gelisah, kedinginan hingga menggigil, kemudian pusing,mual dan fatalnya hingga halusinasi. Ketika gejala hipotermia terjadi, hal yang perlu dilakukan adalah diberi thermal, portable Oksigen, dan catatan pentingnya adalah ketika di penderita belum sadar jangan diberi minum, karena ditakutkan akan tersedak. Lalu, bisa memberikan cokelat ke bibirnya, untuk perasa. Cara efektif yang lain adalah memberikan kompres air hangat ke ketiak, dada.

Farid menambahkan edukasi terkait hipotermia. Ada tingkatan hipotermia yang perlu diketahui yaitu fase ringan, sedang, dan parah. "Hipotermia masih termasuk fase ringan bila suhu tubuh berada di kisaran 32–35 derajat Celsius. Gejala hipotermia fase ringan, antara lain tekanan darah tinggi, menggigil, detak jantung meningkat dan napas menjadi cepat, pembuluh darah menyempit, kelelahan, serta kurang koordinasi. Hipotermia memasuki fase sedang bila suhu tubuh menurun sampai di kisaran 28–32 derajat Celsius. Hipotermia sudah bisa dikatakan parah bila suhu tubuh kurang dari 28 derajat Celsius. Kondisi ini sangat berbahaya, sehingga perlu mendapatkan pertolongan medis secepatnya. Gejala hipotermia fase parah, antara lain sulit bernapas, pupil tidak reaktif, gagal jantung, edema paru dan henti jantung. Ketika seseorang sudah mengalami hipotermia parah, ia sudah tidak sadar dengan apa yang ia lakukan atau lingkungan di sekitarnya, hingga melepaskan pakaian yang dia kenakan," tambahnya.

Bunda Elvy berpesan, sebelum mendaki usahakan edukasi, persiapan, dan menyiapkan segala situasi yang out of control seperti baju kering, hangat, dan sebagainya. Sementara Farid melengkapi pesan pada masyarakat tentang mendaki gunung. "Jangan berhenti terus belajar, dan tanya pada orang yang lebih berpengalaman, dan jangan merasa saya cukup tau dan cukup ilmu," tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....