Jangan Tergiur Harga dan Desain, Kenali Material Tumbler sebelum Membeli
- 21 Sep 2026 09:19 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Tumbler kini menjadi salah satu perlengkapan yang banyak digunakan untuk membawa minuman sehari-hari. Selain praktis, penggunaan tumbler juga dapat membantu mengurangi penggunaan botol minuman sekali pakai.
Namun, memilih tumbler sebaiknya tidak hanya berdasarkan desain, warna, ukuran, atau harga. Material yang digunakan juga perlu diperhatikan, terutama jika tumbler berbahan stainless steel.
Dua jenis stainless steel yang cukup sering digunakan pada produk makanan dan minuman adalah stainless steel 304 dan 316. Keduanya sama-sama memiliki ketahanan terhadap korosi, tetapi komposisi dan karakteristiknya berbeda.
Stainless steel 304 merupakan salah satu jenis baja tahan karat yang paling banyak digunakan dalam aplikasi makanan dan minuman.
Nickel Institute menjelaskan bahwa Type 304 merupakan salah satu alloy yang paling umum digunakan dalam aplikasi makanan dan minuman, termasuk peralatan dapur. Material ini juga sering disebut sebagai stainless steel 18-8 atau 18-10, yang merujuk pada kandungan kromium dan nikelnya.
Kandungan kromium pada stainless steel berperan dalam membentuk lapisan pasif yang membantu melindungi permukaan material dari korosi. Sementara itu, nikel membantu memberikan karakteristik seperti ketangguhan dan kemampuan pembentukan yang baik.
Karena karakteristik tersebut, stainless steel 304 banyak digunakan untuk berbagai produk yang bersentuhan dengan makanan dan minuman.
Artinya, tumbler berbahan 304 bukan berarti memiliki kualitas rendah. Untuk penggunaan sehari-hari, material tersebut memang merupakan salah satu pilihan yang umum digunakan pada produk food contact.
Lalu, Apa yang Membuat Stainless Steel 316 Berbeda?
Stainless steel 316 memiliki komposisi yang sedikit berbeda. Salah satu unsur penting yang membedakannya dari 304 adalah adanya molibdenum (molybdenum/Mo).
Menurut produsen stainless steel Outokumpu, molibdenum dapat meningkatkan ketahanan stainless steel terhadap korosi, termasuk korosi lokal.
Karena itu, stainless steel 316 umumnya digunakan ketika material membutuhkan ketahanan korosi yang lebih tinggi. Outokumpu juga mencatat bahwa grade 316L termasuk keluarga stainless steel austenitik yang mengandung kromium, nikel, dan molibdenum serta digunakan pada aplikasi dengan tuntutan ketahanan korosi lebih tinggi.
Nickel Institute menyebut Type 304 sebagai alloy yang paling umum digunakan dalam aplikasi makanan dan minuman, sementara Type 316L digunakan pada sejumlah produk yang membutuhkan ketahanan korosi lebih tinggi.
Apakah Tumbler 316 Pasti Lebih Baik?
Jika yang dimaksud "lebih baik" adalah lebih tahan terhadap korosi pada kondisi tertentu, maka 316 memang memiliki keunggulan karena adanya molibdenum.
Namun, jika tumbler hanya digunakan untuk kebutuhan minum sehari-hari, keunggulan tersebut belum tentu menjadi faktor yang paling menentukan.
Kualitas tumbler juga dipengaruhi oleh konstruksi produk, ketebalan material, kualitas sambungan, lapisan permukaan, tutup, seal atau karet, hingga proses pembuatannya.
Karena itu, konsumen sebaiknya tidak hanya melihat angka 304 atau 316, tetapi juga mempertimbangkan keseluruhan kualitas produk.
Bagaimana dengan Keamanan untuk Minuman?
Stainless steel berbasis nikel telah lama digunakan sebagai material yang bersentuhan dengan makanan dan minuman.
Nickel Institute menyebut stainless steel yang mengandung nikel banyak digunakan dalam industri makanan karena memiliki daya tahan, mudah dibersihkan, serta ketahanan terhadap korosi.
Sebuah kajian yang dirangkum Nickel Institute juga menyebutkan bahwa penelitian terhadap sejumlah stainless steel yang digunakan sebagai material kontak pangan menunjukkan pelepasan nikel dan logam lainnya berada dalam jumlah kecil serta berada di bawah batas pelepasan yang ditetapkan dalam pedoman yang digunakan dalam kajian tersebut.
Meski demikian, keamanan suatu tumbler tidak cukup ditentukan hanya dari tulisan "304" atau "316". Produk secara keseluruhan harus dibuat dan digunakan sesuai standar serta peruntukannya.
Jangan Mudah Percaya Label “Food Grade!”
Tulisan "food grade" pada kemasan juga sebaiknya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan.
Konsumen dapat memeriksa spesifikasi produk secara lebih detail. Jika produsen mencantumkan jenis stainless steel, perhatikan apakah tertulis 304, 316, atau 316L.
Informasi mengenai material akan membantu konsumen mengetahui karakteristik produk yang dibeli.
Selain itu, pilih produk dari produsen yang memberikan informasi spesifikasi secara jelas, termasuk material bagian dalam tumbler yang bersentuhan langsung dengan minuman.
Perawatan Tumbler Stainless Steel.
Apa pun materialnya, perawatan tetap penting.
Tumbler sebaiknya segera dicuci setelah digunakan, khususnya setelah menyimpan kopi, teh, susu, jus, atau minuman lainnya. Bagian tutup dan karet penyegel juga perlu dibersihkan karena sisa minuman dapat tertinggal di bagian tersebut.
Hindari menggunakan bahan pembersih atau perlakuan yang tidak direkomendasikan produsen. Sebagai catatan, paparan bahan kimia tertentu juga dapat memicu korosi lokal pada stainless steel. Nickel Institute, misalnya, mencatat bahwa sodium hypochlorite atau pemutih dapat menyebabkan korosi lokal apabila tidak digunakan dan dibilas dengan benar.
Mana yang Lebih Baik, 304 atau 316?
Jawabannya kembali pada kebutuhan.
Stainless steel 304 sudah sangat umum digunakan untuk aplikasi makanan dan minuman serta memiliki ketahanan korosi yang baik. Sementara stainless steel 316 menawarkan ketahanan korosi yang lebih tinggi pada kondisi tertentu berkat kandungan molibdenumnya.
Jadi, jangan langsung menganggap tumbler 316 pasti lebih layak daripada 304. Yang lebih penting adalah memahami kebutuhan penggunaan, kualitas produk, material yang benar-benar digunakan, dan cara perawatannya.
Sebelum membeli tumbler, jangan hanya bertanya, "Modelnya bagus atau tidak?" tetapi juga "Terbuat dari material apa?"
Sebab, memahami material merupakan langkah sederhana untuk memilih tumbler yang sesuai dengan kebutuhan dan penggunaan sehari-hari.
Dalam penggunaan sehari-hari, karakteristik tersebut menjadi salah satu alasan mengapa 316 sering diposisikan sebagai material dengan ketahanan korosi lebih tinggi dibandingkan 304.
Dalam ilmu material, perbedaan antara 304 dan 316 tidak sekadar persoalan "mana yang lebih bagus". Pemilihan material harus disesuaikan dengan lingkungan penggunaannya.
Menurut penjelasan teknis Outokumpu, peningkatan kandungan unsur seperti kromium, nikel, dan molibdenum secara umum dapat meningkatkan ketahanan terhadap korosi. Secara khusus, molibdenum berperan penting dalam meningkatkan ketahanan terhadap korosi lokal.
Dengan demikian, keunggulan 316 terutama terlihat ketika material menghadapi kondisi yang lebih korosif, bukan berarti semua penggunaan sehari-hari membutuhkan stainless steel 316.
Untuk tumbler yang digunakan membawa air putih, kopi, teh, atau minuman sehari-hari, stainless steel 304 dapat menjadi material yang sesuai apabila produk dibuat dengan standar yang baik. (DMR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....