MASIH KITA Abadikan Ketidakpastian dalam “Kamu dan Jam Tangan”

  • 25 Agt 2026 13:54 WIB
  •  Madiun
Poin Utama
  • MASIH KITA, duo vokal asal Bandar Lampung, meluncurkan single terbaru berjudul 'Kamu dan Jam Tangan' melalui label Sintesa Pro yang mengeksplorasi tema ketidakpastian dalam hubungan
  • Lois Claudia Mallasak, salah satu anggota, merupakan pemegang medali emas Bandung Choral Festival dan pemenang Bintang Radio Lampung 2025 dengan pengalaman paduan suara tingkat nasional
  • M. Mahapatih Prawira Putra, anggota lainnya, adalah peraih penghargaan FLS3N dan vokalis Gita Bahana Nusantara 2025 yang pernah tampil langsung di Upacara Kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka

RRI.CO.ID, Madiun - Ada momen dalam sebuah hubungan yang terkadang lebih berat daripada perpisahan itu sendiri: saat seseorang belum benar-benar pergi, tetapi kita juga tidak yakin apakah ia akan tetap tinggal. Perasaan itulah yang menjadi ruang utama dalam single terbaru duo MASIH KITA, “Kamu dan Jam Tangan”, yang resmi dirilis melalui label Sintesa Pro.

MASIH KITA adalah duo vokal asal Bandar Lampung yang terbentuk dari pertemuan dua musisi dengan latar belakang prestasi vokal yang jarang ditemukan di tahap awal sebuah karier rekaman. Lois Claudia Mallasak membawa pengalaman paduan suara kompetitif kelas nasional pemegang medali emas Bandung Choral Festival dan pemenang Bintang Radio Lampung 2025. M. Mahapatih Prawira Putra peraih penghargaan FLS3N dan vokalis Gita Bahana Nusantara 2025, vokal paduan suara kebanggaan nasional yang tampil langsung di Upacara Kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka.

Lagu "Kamu dan Jam Tangan" ini membawa pendengar ke sebuah suasana sederhana namun penuh tanda tanya. Jam berhenti di angka setengah dua, hujan turun di pinggiran Jakarta, sementara seseorang berdiri diam mendengar langkah kaki di belakangnya. Tidak ada kepastian apakah langkah itu akan mendekat atau justru menjauh untuk selamanya.

MASIH KITA memilih untuk tidak menyelesaikan cerita tersebut dengan jawaban. Justru, “Kamu dan Jam Tangan” membiarkan pendengar tinggal lebih lama dalam ketidakpastian. Potongan lirik “Setengah dua masih sama / Kamu dan jam tanganku” menjadi gambaran tentang waktu yang seolah berhenti, sementara perasaan masih tertinggal di tempat yang sama.

Detail-detail kecil menjadi kekuatan lagu ini. Pita putih berbentuk kupu-kupu, rambut hitam, detak jam yang pelan, hingga masa depan yang dibiarkan menggantung, dirangkai tanpa drama berlebihan. Tidak ada tangisan besar atau konfrontasi emosional. Yang hadir justru keheningan dan ruang yang membuat cerita terasa semakin dekat.

Dari sisi musik, aransemen garapan Ade Ir memilih tempo yang tenang dan tidak tergesa-gesa. Ruang suara dibuat luas, harmoni vokal ditempatkan dengan presisi, seolah seluruh lagu memang mengajak waktu untuk berhenti sejenak. Sentuhan akhir mixing dan mastering oleh Derry Wijaksana semakin memperkuat atmosfer dreamy yang menjadi rumah bagi lagu ini.

Dengan pendekatan tersebut, “Kamu dan Jam Tangan” tidak sekadar bercerita tentang kehilangan. Lagu ini menangkap satu detik sebelum semuanya benar-benar berubah—momen ketika seseorang masih ada di depan mata, tetapi kemungkinan untuk kehilangannya sudah mulai terasa. Sebuah cerita yang mungkin belum selesai, tetapi justru karena itulah sulit untuk dilupakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....