Pengaruh Tren Bersepeda di Masyarakat & Penjual
- 17 Jul 2026 10:12 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun — Tren bersepeda kembali di tengah masyarakat. Berbeda dengan gelombang awal yang sempat memuncak beberapa tahun lalu, antusiasme kali ini didorong oleh kesadaran kesehatan yang meningkat.
Fenomena ini membawa dampak yang berbeda, baik dari sudut pandang para pesepeda aktif maupun para pelaku usaha di toko sepeda. Bagi para pencinta olahraga roda dua, tren ini menjadi momentum positif untuk mengubah gaya hidup.
Mada Ristun, seorang pesepeda sekaligus penyiar di RRI Madiun, mengungkapkan bahwa tren bersepeda sebenarnya bukanlah hal baru.
| Baca juga: UMMAD EduRide: Gowes Seru Sambut PMB 2026 |
"Sebenarnya tren sepeda itu kan sudah sempat ada kan di Madiun waktu itu, waktu zaman covid. Terus kemudian sekarang muncul lagi karena semakin banyaknya masyarakat yang mulai peduli sama kesehatan," ujar Mada, kemarin.
Secara personal, Mada merasakan dampak fisik yang sangat signifikan sejak rutin bersepeda tiga hingga empat kali seminggu di kala libur atau saat tidak ada jadwal siaran pagi. Sebagai seorang penyiar yang dituntut banyak duduk, bersepeda menjadi solusi kebugarannya.
"Karena kita kan juga siaran duduk terus ya, dengan naik sepeda kita udah mulai agak enakan otot belakangnya. Terus habis gitu, sendi yang biasanya suka enggak enak, sekarang udah better daripada yang sebelumnya," ungkapnya.
Mada juga menyoroti bagaimana pola penyebaran tren ini terjadi begitu cepat di era digital berkat adanya keterlibatan platform digital dan kemudahan akses kepemilikan sepeda saat ini.
"Media sosial sih. Jadi, karena media sosial sekarang ini kan apa-apa dikit langsung bisa booming. Jadi, orang posting naik sepeda, kemudian follow-followan sama teman, akhirnya jadi cepat booming-nya. Ditambah event sepeda sekarang juga udah banyak. Plus, sekarang sepeda jauh lebih murah daripada dulu. Jadi, orang-orang sekarang ini udah enggak canggung buat beli sepeda," tambahnya.
Jalanan terlihat ramai dan media sosial dipenuhi oleh konten bersepeda, realita di tingkat toko sepeda justru menunjukkan pemandangan yang sangat kontras.
Peningkatan jumlah pesepeda di jalan rupanya tidak serta-merta mendongkrak grafik penjualan toko secara drastis. Bima, seorang mekanik di Toko Sepeda Dwi Jaya Madiun, memaparkan bahwa kondisi pasar saat ini tergolong sangat stabil atau cenderung datar (flat).
"Kita setabil sih. Untuk dari penjualan stabil, ya. Kalau kenaikan, enggak tahu sih, Mbak. Kita ini aja sih, kita flat gitu aja sih. Jadi enggak ada kenaikan nek pendapat saya," kata Bima
Menurut pengamatan Bima, situasi pasar dari dulu hingga sekarang tidak menunjukkan lonjakan yang berarti, baik dari segi harga maupun volume penjualan sepeda itu sendiri.
"Iya, dari dulu sampai sekarang harganya segitu terus. Sama sih, ya ya standar sih. Dari tiap bulan standar semua, rata-rata segitu semua. Sebelum tren atau sesudah tren ini kita dalam arti sepeda standar terus semua. Penjualan atau mau menyervis juga standar semua," jelas Bima.
Dimungkinkan masyarakat sebenarnya sudah memiliki sepeda sejak tren bersepeda di masa pandemi Covid-19. Oleh karena itu, saat antusiasme bersepeda kembali booming, mayoritas warga hanya menggunakan sepeda yang sudah ada, sehingga angka penjualan di tingkat pedagang tetap.
(DEVI NUR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....