Mengenal Helm Khusus Bayi atau Helmet Therapy, Fungsi Medis atau Sekadar Gaya?
- 20 Mei 2026 14:27 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Belakangan ini, helm khusus bayi mulai ramai diperbincangkan di media sosial. Bentuknya yang lucu dengan desain warna-warni membuat banyak orang tua tertarik menggunakannya. Tidak sedikit pula yang menganggap helm bayi menjadi perlengkapan wajib untuk melindungi kepala si kecil. Namun, benarkah helm khusus bayi memang kebutuhan, atau hanya sekadar tren parenting modern?
Praktik ini dikenal sebagai helmet therapy atau cranial orthosis, yang umumnya digunakan pada bayi dengan kondisi kepala datar, seperti plagiocephaly atau brachycephaly. Kondisi ini cukup sering terjadi, terutama pada bayi yang banyak berbaring dengan posisi kepala yang sama.
Helm bayi sebenarnya memiliki fungsi tertentu dalam dunia medis. Dokter biasanya merekomendasikan helm terapi untuk bayi yang mengalami kondisi kepala peyang atau tidak simetris, yang dikenal sebagai plagiocephaly. Kondisi ini dapat terjadi karena bayi terlalu lama berada dalam posisi tidur yang sama atau akibat tekanan tertentu pada kepala sejak lahir.
Sebuah systematic review di jurnal Child's Nervous System menyebut helmet therapy dapat efektif, terutama pada bayi dengan deformitas yang lebih jelas. Keputusan tetap harus mempertimbangkan usia bayi, tingkat keparahan, dan kemungkinan perbaikan tanpa intervensi.

Helm terapi tersebut dibuat khusus berdasarkan ukuran kepala bayi dan penggunaannya harus melalui pengawasan dokter spesialis. Tujuannya membantu membentuk pertumbuhan tengkorak agar lebih simetris selama masa pertumbuhan bayi yang masih berlangsung cepat.
Namun, helm bayi yang kini banyak dijual di pasaran tidak semuanya termasuk alat medis. Sebagian besar merupakan helm pelindung ringan yang digunakan saat bayi mulai belajar duduk, merangkak, atau berjalan. Orang tua biasanya memakaikan helm ini untuk mengurangi risiko benturan ketika bayi terjatuh.
Meski terlihat aman, para ahli kesehatan anak mengingatkan bahwa penggunaan helm pelindung sehari-hari tidak selalu diperlukan. Bayi secara alami memiliki mekanisme belajar menjaga keseimbangan dan koordinasi tubuh. Terlalu sering menggunakan helm justru dikhawatirkan membuat bayi kurang belajar mengenali risiko di sekitarnya.
Selain itu, penggunaan helm yang tidak sesuai ukuran atau terlalu lama juga dapat membuat bayi merasa tidak nyaman, berkeringat berlebihan, hingga menyebabkan iritasi pada kulit kepala. Karena itu, orang tua disarankan tetap memperhatikan kenyamanan dan keamanan saat memilih perlengkapan untuk anak.
Dokter anak umumnya lebih menekankan pentingnya menciptakan lingkungan rumah yang aman dibandingkan memakaikan helm setiap saat. Misalnya dengan memasang pelindung sudut meja, menggunakan alas bermain yang empuk, serta selalu mengawasi bayi ketika aktif bergerak.
Di sisi lain, tren penggunaan helm bayi juga dipengaruhi oleh media sosial. Banyak orang tua membagikan foto atau video bayi memakai helm lucu sehingga memunculkan kesan bahwa perlengkapan tersebut wajib dimiliki. Padahal, kebutuhan setiap bayi berbeda-beda dan tidak semua memerlukannya.
Pada akhirnya, helm khusus bayi atau helmet therapy bisa menjadi kebutuhan jika digunakan untuk terapi medis sesuai anjuran dokter. Namun jika hanya digunakan sebagai aksesori atau mengikuti tren, orang tua perlu mempertimbangkan manfaat dan kenyamanan bagi si kecil. Yang terpenting bukan sekadar mengikuti tren, tetapi memastikan bayi tumbuh dengan aman, sehat, dan nyaman. (DMR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....