Pamungkas Siapkan Album Keenam, Diawali “Berapa Kali Kita Akan Saling Memaafkan"
- 11 Apr 2026 11:39 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Pamungkas kini memasuki fase baru dalam perjalanan hidup dan bermusiknya. Dalam periode ini, ia menggambarkan dirinya berada di titik paling tenang yang pernah ia rasakan, suatu ketenangan yang tak lagi didorong oleh ambisi, melainkan dari pilihan sadar untuk menjalani hidup dengan ritme yang lebih lambat.
Fase ini menjadi fondasi dari karya terbarunya, termasuk album keenam yang tengah ia siapkan. Sebagai pembuka, Pamungkas merilis single “Berapa Kali Kita Akan Saling Memaafkan”, yang menjadi representasi awal dari arah musikal dan emosionalnya.
Perubahan ini tidak datang secara instan. Di tahun ke-8 perjalanan karirnya, Pamungkas mulai menemukan perspektif baru dalam memandang hidup. Kehilangan Ayah, menjadi titik refleksi terdalam yang membentuk cara pandangnya terhadap hubungan antar manusia, identitas diri, serta makna; bagaimana menjalani hidup dengan ritmenya sendiri. Dari pengalaman tersebut, Pam belajar untuk tidak lagi hidup dalam ritme yang serba cepat, melainkan memahami kapan harus bergerak dan kapan harus melambat.
Transisi menuju fase ini sebenarnya sudah mulai terasa sejak era album Birdy, yang berlangsung hingga tur pada 2023. Pada periode tersebut, Pamungkas mulai mempertanyakan arah dan tujuan personalnya. Ia menyadari bahwa dorongan besar dalam karya-karya sebelumnya, mulai dari album pertama hingga Solipsism banyak dipengaruhi oleh keinginan untuk membanggakan orang tuanya. Setelah mencapai titik tersebut, ia mulai mencari makna baru dalam perjalanan kreatifnya.
Proses pencarian itu berlanjut hingga melahirkan album Hardcore Romance, yang menjadi titik penting dalam karirnya. Hardcore Romance merupakan karya pertama yang sepenuhnya ia dedikasikan untuk dirinya sendiri, tanpa pertimbangan eksternal. Dalam prosesnya, Pamungkas juga belajar untuk melambat setelah bertahun-tahun menjalani ritme kerja yang intens.
Memasuki album keenam, Pamungkas menggambarkan perjalanan hidupnya seperti pusaran tornado. Jika album-album sebelumnya berfokus pada upaya bertahan dan memahami hidup dalam chaos, maka di fase ini ia merasa berada di kondisi yang tenang. Dalam kondisi ini, Pam dapat mengamati kompleksitas hidup tanpa terus terlibat secara emosional.
"I’m in the calmest phase of my life. It’s about being calm and embracing a slower pace.” ungkap Pamungkas.
Secara tematik, lagu ini berbicara tentang bagaimana kita mencoba untuk memaafkan, baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri. Ia juga merefleksikan penerimaan terhadap perbedaan, percakapan yang belum terselesaikan, serta pilihan hidup yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Dalam konteks personal, lagu ini menjadi bentuk refleksi atas hubungan Pamungkas dengan Ayahnya, yang kini hanya bisa diselesaikan melalui penerimaan.
Hingga saat ini, Pamungkas masih belum mengungkapkan judul untuk album keenamnya. Spekulasi pun mulai muncul, termasuk kemungkinan bahwa album ini akan menjadi album bertajuk “Pamungkas” yang menandai akhir dari perjalanan kariernya. Namun demikian, belum ada konfirmasi resmi terkait hal tersebut, dan harapannya, fase ini justru menjadi kelanjutan dari eksplorasi musikal Pamungkas, bukan penutup.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....